Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Didorong Danantara, BTN Kaji Opsi Buyback Saham
Logo Bank BTN. (Dok/Istimewa).

  • BTN mempertimbangkan opsi buyback saham atas dorongan Danantara untuk mengoptimalkan valuasi yang dinilai belum mencerminkan fundamental bisnis, sekaligus mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan.
  • Danantara menilai aksi buyback sebagai langkah wajar bagi perusahaan dengan fundamental kuat, sementara BTN terus memperkuat bisnis melalui strategi pertumbuhan organik dan anorganik.
  • BTN menandatangani perjanjian akuisisi portofolio kredit senilai hampir Rp20 triliun dari Bank SMBC Indonesia guna memperluas aset produktif dan memperkuat segmen kredit berbasis payroll.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengkaji opsi pembelian kembali saham atau buyback. Aksi korporasi ini dilakukan sejalan dengan pertimbangan dan upaya Danantara mengoptimalkan valuasi saham yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental bisnis perusahaan.

Pada Rabu (24/6), pukul 12:23 WIB, saham BTN berada di level Rp1.115 per saham. Secara year to date, nilai saham perseroan telah turun 45 persen.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, opsi buyback tersebut bakal diarahkan untuk mendukung kepemilikan saham bagi karyawan, mengingat saat ini porsi saham publik di BBTN telah berada pada batas ketentuan minimum.

"Saat ini harga saham BBTN sudah cukup undervalued, sehingga kemungkinan yang bisa kami kaji adalah pembelian saham untuk kebutuhan program karyawan seperti bonus atau stock option. Saat ini belum masuk dalam Rencana Bisnis Bank [RBB], tetapi akan kami coba kaji untuk dimasukkan dalam revisi RBB," ujar Nixon di Jakarta.

Di sisi lain, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menyebut buyback merupakan aksi korporasi yang wajar, apalagi jika harga saham dinilai belum mencerminkan fundamental perusahaan.

"Buyback itu sebenarnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu bisa menjadi pilihan. Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat," ujar Dony.

Menurutnya, perusahaan BUMN yang memiliki fundamental bisnis dsolid termasuk sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga pengembangan usaha lainnya. Karena itu, perusahaan dengan fundamental baik memiliki potensi untuk terus menciptakan nilai bagi pemegang saham.

BTN tengah memperkuat fundamental bisnisnya, salah satunya dengan memperluas basis aset produktif melalui akuisisi portofolio kredit milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Senin (25/5), BTN menandatangani dua perjanjian pengalihan portofolio kredit yang mencakup segmen pensiunan, pra-pensiunan, hingga karyawan aktif di lingkungan BUMN dan lembaga pemerintahan. Kesepakatan tersebut diteken pada 22 Mei 2026 melalui skema Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).

Melalui skema tersebut, BTN akan mengambil alih portofolio kredit pensiunan dan pra-pensiunan dengan manfaat pensiun yang dikelola TASPEN, dengan estimasi nilai transaksi mencapai Rp12,58 triliun. Sementara itu, lewat CLATA, perseroan akan mengakuisisi portofolio kredit yang terkait dengan pensiunan ASABRI, peserta dana pensiun lainnya, serta kredit bagi karyawan aktif BUMN dan lembaga pemerintah, dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp7,34 triliun.

Secara total, nilai portofolio yang berpotensi beralih ke BTN mendekati Rp20 triliun. Nixon menegaskan transaksi ini menegaskan langkah agresif BTN dalam memperbesar skala bisnis sekaligus memperkuat penetrasi pada segmen kredit berbasis payroll yang selama ini dikenal memiliki profil risiko relatif terjaga dan kualitas aset yang stabil.

Analis Bahana Sekuritas Razqi M Kurniawan menilai rencana pembelian aset tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah signifikan bagi BTN tanpa menyebabkan dilusi terhadap pemegang saham. Akuisisi portofolio tersebut juga dinilai mampu menjawab sejumlah tantangan struktural BTN melalui penambahan aset dengan yield lebih menarik, risiko kredit lebih terkendali, serta profil aset dengan durasi lebih pendek.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article