Jakarta, FORTUNE — Kesadaran finansial di kalangan generasi Z terus meningkat seiring derasnya arus informasi digital. Namun, di balik tren tersebut, berbagai fenomena gaya hidup seperti fear of missing out (FOMO), fear of other people’s opinions (FOPO), doom spending, hingga you only live once (YOLO) masih menjadi tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan keuangan anak muda.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menilai generasi muda saat ini sebenarnya telah memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan keuangan dibandingkan generasi sebelumnya. Meski demikian, tantangan terbesar bukan lagi sekadar memahami konsep keuangan, melainkan meningkatkan kapasitas ekonomi dan mengambil keputusan finansial yang tepat untuk masa depan.
“Banyak Gen Z yang sudah sadar finansial, tetapi tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas ekonomi dan mengambil keputusan finansial yang tepat,” ujar Nixon dalam kuliah umum di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Rabu (10/6), mengutip keteranga resmi perusahaan.
Menurut Nixon, tren konsumsi yang dipengaruhi media sosial dan tekanan lingkungan sosial membuat generasi muda perlu memiliki fondasi literasi keuangan yang lebih kuat. Selain berbagai fenomena gaya hidup tersebut, ia juga mengingatkan risiko aktivitas negatif seperti judi online yang dapat mengganggu kondisi keuangan seseorang.
Di tengah perubahan pola konsumsi tersebut, Nixon menekankan pentingnya memahami perbedaan antara utang produktif dan utang konsumtif. Menurutnya, keputusan berutang harus mempertimbangkan manfaat jangka panjang yang diperoleh setelah kewajiban tersebut selesai dibayar.
“Utang harus dihitung dengan cermat. Utang yang benar adalah ketika setelah lunas kita merasa lebih kaya karena memiliki aset yang nilainya meningkat. Jangan sampai mengambil utang untuk sesuatu yang habis sebentar, tetapi kewajibannya berjalan panjang. Misalnya utang untuk liburan satu minggu tapi cicilannya 5 tahun,” kata Nixon.
Ia mencontohkan kepemilikan rumah sebagai salah satu bentuk perencanaan keuangan jangka panjang yang dapat mulai dipersiapkan sejak usia muda. Menurutnya, kebutuhan hunian akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kenaikan harga aset dari waktu ke waktu.
“Inflasi pasti akan terjadi. Karena itu generasi muda perlu mulai merencanakan masa depan finansialnya, termasuk memiliki aset yang nilainya terus naik seperti rumah,” ujarnya.
Untuk mendekatkan edukasi finansial kepada generasi muda, BTN memperluas keterlibatannya di lingkungan perguruan tinggi. Dalam kesempatan yang sama, BTN menandatangani nota kesepahaman dengan Unpad terkait pemanfaatan dan pelayanan produk maupun jasa perbankan.
Langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi BTN menuju beyond mortgage dengan menghadirkan layanan finansial yang lebih terintegrasi, mulai dari tabungan, transaksi digital melalui balé by BTN, hingga pembiayaan perumahan.
Menurut Nixon, perkembangan digitalisasi membuat peran perbankan tidak lagi sekadar menyediakan layanan keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung aktivitas masyarakat.
“Dulu bank berada di belakang, sekarang bank ikut membangun ekosistem. Ke depan sektor keuangan dan sektor riil akan semakin menyatu karena digitalisasi,” ujar Nixon.
Melalui kolaborasi dengan Unpad, BTN juga menghadirkan berbagai program yang relevan bagi mahasiswa, mulai dari pemanfaatan layanan perbankan, program magang, hingga peluang berkarier melalui Officer Development Program (ODP).
“Kampus adalah salah satu ekosistem penting yang menunjang ekonomi bangsa. Hubungan antara kampus dan bank harus saling memberikan manfaat. BTN siap mendukung mulai dari layanan finansial, perumahan karyawan maupun dosen, magang, rekrutmen, hingga pengembangan pendidikan,” kata Nixon.
Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita mengatakan kolaborasi tersebut menjadi upaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri. “Kerja sama ini untuk mendukung apa yang bisa kami sumbangkan bagi dunia praktis. Bersama BTN, kolaborasi dilakukan mulai dari dukungan fasilitas, magang, pendidikan, hingga pengembangan sumber daya manusia,” ujar Arief.
Di era ketika tren konsumsi dapat berubah hanya dalam hitungan jam melalui media sosial, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi bekal penting bagi generasi muda. Kesadaran finansial yang tinggi pun dinilai perlu diiringi dengan disiplin dalam mengambil keputusan keuangan.
