Jakarta, FORTUNE – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) membukukan laba bersih Rp802 miliar per Juli 2026, alias tumbuh tipis 1,76 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian ini berkonteks ketatnya likuiditas industri perbankan daerah akibat penurunan dana Transfer ke Daerah (TKD) yang menekan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan.
Sepanjang tujuh bulan pertama 2026, total DPK Bank Jatim mengalami penurunan 10,65 persen (YoY) menjadi Rp72,97 triliun. Penurunan terdalam dialami oleh instrumen deposito berjangka yang anjlok 16,04 persen menjadi Rp26,38 triliun, disusul simpanan giro yang tergerus 14,94 persen menjadi Rp17,54 triliun.
Sementara itu, dana tabungan terekam relatif stabil meski terkoreksi tipis 1,94 persen menjadi Rp29,05 triliun.
Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, menjelaskan penurunan TKD dari pemerintah menjadi pemicu utama ketatnya likuiditas pada perbankan daerah. Situasi ini mendorong perseroan melakukan penataan ulang strategi bisnis secara aktif.
“Di tengah strategi rebalancing bisnis dan kondisi perekonomian yang menantang, Bank Jatim tetap mampu mencatat laba bersih sebesar Rp802 miliar,” kata Winardi dalam Public Expose Live, Rabu (9/9).
Direktur Keuangan & Tresuri Bank Jatim, RM Wahyukusumo Wisnubroto, menyatakan likuiditas bank daerah sangat bergantung pada pengelolaan kas pemerintah daerah (Pemda). Saat ini, porsi TKD yang dikelola oleh Bank Jatim berada pada level 19,35 persen.
Guna memitigasi dampak keterbatasan TKD, perseroan mengalihkan fokus pada optimalisasi penghimpunan dana murah (Current Account Savings Account/CASA) dari masyarakat umum melalui penguatan infrastruktur digital.
“Kami fokus pada optimalisasi pengelolaan likuiditas melalui penetrasi pengelolaan dana murah masyarakat,” ujar Wahyu.
Memasuki semester II-2026, Bank Jatim berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekspansi dan kualitas aset. Strategi pertumbuhan juga diperkuat melalui sinergi bersama anggota Kelompok Usaha Bank (KUB).
Hingga Juli 2026, total aset Bank Jatim telah menembus Rp98 triliun, sementara realisasi penyaluran kredit secara kumulatif mencapai Rp66,4 triliun.
