Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Gubernur BI Siapkan Sederet Starategi Jaga Nilai Tukar Rupiah

Gubernur BI Siapkan Sederet Starategi Jaga Nilai Tukar Rupiah
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kedua kanan), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan), Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri), dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari (kiri) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5). ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Intinya Sih
  • Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan rupiah saat ini undervalue namun diyakini akan stabil dan menguat meski masih menghadapi tekanan global serta arus keluar modal asing.
  • Tekanan terhadap rupiah dipicu faktor global seperti kenaikan harga minyak, suku bunga tinggi AS, penguatan dolar, serta kebutuhan valas musiman untuk dividen, utang luar negeri, dan haji.
  • BI menyiapkan tujuh strategi menjaga stabilitas rupiah, termasuk intervensi pasar valas DNDF-NDF, penerbitan SRBI, pembelian SBN, pembatasan pembelian dolar tanpa underlying, dan penguatan transaksi mata uang lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, membeberkan sederet strategi agresif yang ditempuh Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan derasnya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

Usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Selasa (5/5), Perry menegaskan rupiah saat ini sebenarnya berada dalam kondisi undervalued atau berada di bawah nilai fundamentalnya.

"Ke depan, kami yakin [rupiah] akan stabil dan menguat,” ujar Perry seperti dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Meski demikian, dia menyebut tekanan terhadap rupiah masih terjadi dalam jangka pendek. Secara year-to-date, rupiah telah melemah sekitar 3,1 persen terhadap dolar Amerika Serikat.

Pelemahan itu terlihat dari pergerakan kurs rupiah yang berada pada Rp16.865 per dolar AS pada awal tahun dan sempat menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS pada Mei 2026.

Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan musiman. Dari sisi global, lonjakan harga minyak dunia, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga penguatan dolar AS membuat banyak modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dolar yang menguat,” katanya.

Selain itu, periode April hingga Juni juga menjadi masa tingginya permintaan dolar di pasar domestik. Kebutuhan valas meningkat untuk repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan jemaah haji.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI menyiapkan tujuh langkah strategi. Pertama, memperkuat intervensi di pasar valas baik di dalam negeri maupun luar negeri melalui skema domestic non-delivery forward (DNDF) dan offshore non-delivery forward (NDF).

Perry mengatakan BI akan terus melakukan intervensi di berbagai pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York.

“Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,” ujarnya.

Langkah kedua ialah menjaga arus masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Perry mengakui secara year-to-date masih terjadi outflow pada pasar surat berharga negara (SBN) dan saham, sehingga BI berupaya menjaga agar inflow SRBI dapat menutup keluarnya dana asing tersebut.

Ketiga, BI juga aktif membeli SBN dari pasar sekunder sebagai bagian dari koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan. Hingga saat ini, pembelian SBN oleh BI telah mencapai Rp123,1 triliun secara year to date.

Langkah keempat dilakukan dengan menjaga likuiditas perbankan tetap longgar. Perry menyebut pertumbuhan uang primer masih tumbuh double digit sebesar 14,1 persen.

Kelima, BI memperketat pembelian dolar AS di pasar domestik tanpa underlying transaksi. Batas pembelian yang sebelumnya US$100.000 per bulan telah dipangkas menjadi US$50.000 dan akan kembali diturunkan menjadi US$25.000.

“Pembelian dolar di atas 25.000 dolar itu harus pakai underlying,” kata Perry.

Selain itu, BI juga mulai memperkuat penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT), khususnya yuan-rupiah, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Strategi keenam adalah memperkuat pasar offshore non-delivery forward dengan memperbolehkan bank domestik ikut menjual instrumen NDF di pasar luar negeri agar pasokan dolar lebih besar dan stabilitas rupiah lebih terjaga.

Terakhir, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar oleh perbankan dan korporasi.

Perry optimistis kombinasi berbagai langkah tersebut dapat menjaga stabilitas rupiah ke depan, terlebih fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi rendah, kredit yang tumbuh solid, serta cadangan devisa yang memadai.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Related Articles

See More