Investor dapat mengalami kerugian apabila keliru menentukan waktu transaksi. Oleh karena itu, kenali beberapa kesalahan yang perlu dihindari saat mengambil keputusan di pasar modal berikut ini.
Rasa takut saat harga turun atau euforia ketika harga naik dapat memicu keputusan impulsif. Akibatnya, investor berisiko membeli saham di harga tinggi atau menjualnya ketika pasar sedang terkoreksi.
Keputusan buy, hold, atau sell tidak sebaiknya hanya mengandalkan pergerakan harga. Investor juga perlu menilai kinerja keuangan, prospek bisnis, dan kondisi industri agar keputusan tidak spekulatif.
Sebagian investor tetap mempertahankan saham meskipun fundamental perusahaan telah memburuk. Jika alasan awal membeli saham sudah tidak relevan, menjualnya dapat mencegah kerugian yang lebih besar.
Jual saham hanya karena kenaikan atau penurunan harga jangka pendek dapat mengurangi potensi keuntungan. Selama fundamental dan prospek perusahaan tetap kuat, investor perlu mempertimbangkan rencana investasi sebelum melepas saham.
Jadi, menentukan kapan harus buy, hold, atau sell ditentukan pada valuasi aset, fundamental aset, serta tujuan keuangan. Analisis mendalam diperlukan untuk menentukan waktu yang tepat dalam berinvestasi.
Kapan saham harus dibeli dan dijual? | Waktu yang tepat untuk membeli saham adalah saat harga berada di area support atau di awal tren naik. Sebaliknya, waktu terbaik untuk menjual adalah ketika harga menyentuh area resistance atau tren pasar mulai melemah. |
Berapa lama harus hold saham? | Tidak ada aturan pasti mengenai durasi hold saham. Semuanya tergantung pada tujuan, strategi, dan gaya investasi pribadi. |
Apa saja indikator buy, hold, atau sell? | Keputusan investasi tersebut biasanya didasarkan pada kombinasi analisis teknikal, analisis fundamental, dan sentimen pasar. |