Jakarta, FORTUNE – PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) melanjutkan agenda transformasi bisnis dengan memperkuat fundamental, kualitas layanan, dan kapabilitas perbankan. Strategi tersebut mulai tercermin dari sejumlah indikator kinerja perseroan pada awal 2026, meski bank masih menghadapi pekerjaan rumah untuk menjaga kualitas aset dan memperkuat profitabilitas secara berkelanjutan.
Pada kuartal I-2026, KB Bank mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp43,19 triliun, meningkat 2,61 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) konsolidasian mencapai Rp407,04 miliar, melonjak sekitar 64 persen dibandingkan Rp248,33 miliar pada kuartal I-2025.
Dari sisi profitabilitas, KB Bank membukukan laba bersih konsolidasian Rp10,67 miliar pada tiga bulan pertama 2026. Angka tersebut memang turun dibandingkan Rp352,12 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi tetap mencerminkan posisi laba yang positif di tengah proses penataan fundamental bisnis.
Perbaikan juga terlihat dari sisi operasional. KB Bank mencatat laba operasional sebelum biaya pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) positif Rp9 miliar pada kuartal I-2026. Capaian tersebut menjadi yang pertama sejak KB Bank bergabung dengan KB Financial Group pada 2020.
Manajemen sebelumnya menyebut transformasi bisnis masih menjadi agenda utama perseroan. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, mengatakan perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga berupaya memastikan kualitas pertumbuhan tersebut.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan kualitas layanan, serta menghadirkan solusi finansial yang relevan untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi nasabah dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Kunardy, dalam keterangan pers, Rabu (12/8).
Strategi tersebut mencakup penguatan kualitas aset, pengembangan layanan digital, peningkatan kapabilitas wholesale banking, serta optimalisasi pengalaman nasabah. KB Bank juga berupaya memperkuat struktur pendanaan dan efisiensi biaya dana sebagai bagian dari proses perbaikan kinerja.
Perbaikan pendapatan bunga bersih menjadi salah satu indikator dari langkah tersebut. KB Bank mencatat kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) pada kuartal I-2026. NII KB Bank tercatat Rp362,71 miliar, naik hampir dua kali lipat dibandingkan Rp184,41 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Jika digabungkan dengan entitas anak, NII secara konsolidasian mencapai Rp407,04 miliar, meningkat dari Rp248,33 miliar pada kuartal I-2025. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih tersebut turut mendorong margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 2,09 persen, dari 1,09 persen setahun sebelumnya.
Meski kinerja mulai membaik, transformasi KB Bank belum sepenuhnya tuntas. Kunardy mengatakan perseroan masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah, terutama dalam meningkatkan kualitas kredit, memperkuat fundamental bisnis, dan menjaga struktur permodalan agar pertumbuhan dapat berlanjut secara berkelanjutan.
Di sisi layanan, KB Bank terus mendorong penguatan kapabilitas perbankan untuk meningkatkan pengalaman nasabah sekaligus memperkuat daya saing. Upaya tersebut antara lain tercermin dari dua penghargaan yang diraih perseroan baru-baru ini.
KB Bank memperoleh Platinum Awards – Best Acquiring Bank ATM dalam ajang PRIMA Awards 2026 atas kinerja layanan acquiring dan pengelolaan jaringan ATM. Perseroan juga meraih Indonesia PR Corporate Reputation Awards 2026 kategori Bank yang menilai reputasi perusahaan dari aspek bisnis dan komersial, kepemimpinan dan sumber daya manusia, serta sosial dan kewargaan.
Bagi manajemen, pengakuan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa perbaikan layanan dan transformasi mulai mendapat respons positif dari nasabah maupun pemangku kepentingan.
"Kami akan terus memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan kualitas layanan, serta menghadirkan solusi finansial yang relevan untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi nasabah dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Kunardy.
KB Bank kini menghadapi tantangan untuk menjaga tren perbaikan kinerja di tengah proses transformasi yang masih berjalan. Penguatan kualitas aset, pendanaan, layanan digital, dan bisnis wholesale banking akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah momentum tersebut dapat berlanjut pada periode berikutnya.
