Jakarta, FORTUNE – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mengantongi laba bersih Rp1,1 triliun pada semester I-2026, atau melonjak 37 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Kinerja positif emiten berkode saham ADMF ini berhasil dicapai di tengah tantangan ketidakpastian perekonomian global dan domestik, ditopang oleh penyaluran pembiayaan baru serta pertumbuhan penjualan otomotif nasional.
Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, menjelaskan perolehan laba bersih tersebut didorong oleh pertumbuhan pembiayaan baru yang turut meningkatkan total pendapatan perusahaan. Sepanjang enam bulan pertama 2026, pembiayaan baru Adira Finance naik 18 persen (YoY) menjadi Rp23,1 triliun.
“Pertumbuhan tersebut terjadi secara merata pada seluruh segmen pembiayaan, baik otomotif maupun non-otomotif,” kata Made melalui keterangan resmi yang dikutip Senin (3/8).
Peningkatan pembiayaan ini berjalan seiring dengan gairah pasar otomotif nasional.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Motor Indonesia (Gaikindo), penjualan ritel mobil baru tumbuh 10,5 persen (YoY) menjadi 434.000 unit pada semester I-2026. Peningkatan juga terjadi pada penjualan sepeda motor dengan persentase 10 persen (YoY) menjadi 3,3 juta unit.
Dari sisi kinerja keuangan, total pendapatan perusahaan ini terkerek 9 persen (YoY) menjadi Rp6,5 triliun, dengan total piutang pembiayaan yang dikelola meningkat 7 persen (YoY) mencapai Rp64,9 triliun.
Ini terjadi karena diberlakukannya efisiensi operasional, yang menekan beban pendanaan 6 persen (YoY), dan beban penyisihan kerugian 13 persen (YoY) menjadi Rp1,16 triliun.
Sejalan dengan ekspansi skala bisnisnya, perusahaan yang sama mengoptimalkan jangkauan operasional melalui 844 jaringan usaha—terdiri dari kantor cabang dan kantor satelit—untuk melayani 2,6 juta konsumennya di seluruh Indonesia.
Menghadapi sisa 2026, perusahaan berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan melalui penyaluran pembiayaan yang selektif dan disiplin. Made menegaskan Adira Finance akan tetap mengutamakan kualitas pembiayaan, menerapkan manajemen risiko yang prudent, serta mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat.
“Perusahaan akan terus menjaga kualitas aset dan mengoptimalkan komposisi sumber pendanaan di tengah tren kenaikan suku bunga, dengan tetap memperhatikan kecukupan likuiditas dan efisiensi biaya guna mempertahankan profitabilitas,” katanya.
