Jakarta, FORTUNE - Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) mencatat terdapat pergeseran dinamika mesin pertumbuhan pada kuartal kedua 2026.
Dalam analisa tersebut, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami peningkatan dari 5,96 persen YoY pada kuartal sebelumnya menjadi 6,87 persen secara tahunan (year on year/YoY). Di sisi lain, aju pertumbuhannya sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya dari 5,52 persen YoY menjadi 5,06 persen.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi, meskipun lajunya tidak sekuat dibandingkan investasi. Meski demikian, peningkatan tersebut belum menggantikan posisi konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
"Ini sinyal positif bahwa pertumbuhan tidak lagi bertumpu tunggal pada belanja masyarakat, meski konsistensi investasi ke depan tetap perlu dijaga di tengah tantangan eksternal," ujar Josua ujar Josua dalam konfrensi pers PIER Economic Review Kuartal II tahun 2026, Senin (10/8).
Adapun, moderasi konsumsi rumah tangga terlihat pada beberapa kategori belanja. Belanja pakaian melambat menjadi 3,52 persen YoY dari 5,99 persen (YoY), diikuti belanja transportasi dan komunikasi melambat menjadi 5,71 persen (YoY) dari 6,91 persen (YoY). Sementara itu, belanja restoran dan hotel melambat menjadi 6,47 persen (YoY) dari 7,38 persen.
Menurut Josua konsumsi rumah tangga tetap terjaga akibat musim libur sekolah, serta ekspansi ekonomi digital yang terus berlanjut. Belanja pemerintah tumbuh 15,97 persen (YoY) melambat dari 21,81 persen (YoY) pada kuartal sebelumnya, ditopang oleh pencairan gaji ke -13 aparatur sipil negara dan program MBG.
Sementara itu, sektor investasi tercatat merata di hampir seluruh kategori aset, kecuali mesin dan perlengkapan. Investasi bangunan dan struktur meningkat menjadi 6,61 persen secara tahunan dari 5,29 persen pada triwulan sebelumnya, didukung oleh pelaksanaan berbagai proyek infrastruktur pemerintah, termasuk pembangunan infrastruktur Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Di sisi lain, investasi mesin dan perlengkapan melambat tajam menjadi 1,32 persen dari 10,78 persen, sejalan dengan pelemahan aktivitas manufaktur. Kondisi ini tercermin dari penurunan PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global ke level 46,9 pada Juni 2026 dari 50,1 pada Maret 2026, sebelum kembali pulih ke level 50,2 pada Juli 2026.
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan, sedikit di bawah capaian 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi paruh pertama 2026 tercatat 5,45 secara tahunan, meningkat dibandingkan 5,00 persen (YoY) pada periode yang sama tahun 2025.
