Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Studi Visa: 62 Persen Masyarakat RI Belanja Online Lebih Sering 2025 

Studi Visa: 62 Persen Masyarakat RI Belanja Online Lebih Sering 2025 
ilustrasi belanja online (freepik.com/rawpixel.com)
Intinya Sih
  • Studi Visa dan YouGov menunjukkan 62 persen masyarakat Indonesia berbelanja online lebih sering pada 2025.

  • Sebanyak 78 persen konsumen memakai akun dengan saldo tersimpan saat bertransaksi di e-commerce.

  • AI dimanfaatkan oleh 82 persen konsumen untuk membandingkan harga dan mencari produk.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Studi terbaru Visa dan YouGov mengungkapkan bahwa 62 persen masyarakat Indonesia berbelanja online lebih sering, yakni hingga tiga kali setiap bulannya, pada 2025 atau mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan 2024. Kondisi ini mencerminkan pembayaran e-commerce telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Studi ini juga menemukan 78 persen konsumen Indonesia berbelanja online menggunakan akun dengan simpanan saldo dan tidak perlu berpindah aplikasi saat berbelanja pada platform e-commerce. Angka ini bahkan tertinggi di kawasan Asia Pasifik. 

Menurut riset ini, kesadaran masyarakat akan tokenisasi, teknologi yang menggantikan data kartu sensitif dengan data terenkripsi telah mencapai 34 persen. Kondisi ini menandakan pasar Indonesia siap untuk pengalaman pembayaran “one click” yang cepat tanpa mengabaikan keamanan. 

82 persen konsumen pakai AI untuk bandingkan harga saat belanja online

ilustrasi pembayaran saat belanja online
ilustrasi pembayaran saat belanja online (pexels.com/www.kaboompics.com)

Di sisi lain, kecerdasan buatan (AI) juga mengubah cara masyarakat Indonesia berbelanja. Sebanyak 82 persen konsumen menggunakan AI untuk membantu pencarian, seperti membandingkan harga, mencari informasi produk, dan melacak pesanan. Angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 95 persen dalam waktu dekat.

“Konsumen di Indonesia semakin antusias menggunakan AI dalam berbelanja, namun tetap menginginkan kejelasan dan perlindungan yang kuat saat proses pembayaran,” kata Vira Widiyasari selaku Country Manager Visa Indonesia melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis (2/4).

Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara aktivitas pencarian (browsing) saja dan benar-benar membeli. Meskipun 32 persen konsumen menyatakan terbuka terhadap pembelian berbasis AI (agentic commerce), tingkat adopsinya masih dibatasi oleh sikap hati-hati.

Konsumen menginginkan perlindungan jelas, khususnya jaminan tidak adanya biaya tersembunyi serta konfirmasi yang jelas dan transparan sebelum transaksi diselesaikan.

Untuk mendukung masa depan tersebut, Visa secara aktif membangun fondasi bagi generasi berikutnya dari belanja berbasis AI. Melalui inisiatif seperti Visa Intelligent Commerce dan Trusted Agent Protocol, Visa menciptakan lapisan kepercayaan yang aman dan dapat dikembangkan, yang menghubungkan konsumen, agen AI, dan pedagang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Finance

See More