Comscore Tracker
FINANCE

Sri Mulyani: Ekonomi Kita Lampaui Level Prapandemi, Tetangga Belum

Itu tercermin dalam PDB riil Indonesia pada triwulan II 2021

Sri Mulyani: Ekonomi Kita Lampaui Level Prapandemi, Tetangga BelumMenteri Keuangan Sri Mulyani saat menghadiri Rapat Paripurna DPR RI Ke-2 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2021-2022 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (19/8/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Dari sudut pandang Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, kondisi ekonomi Indonesia kini telah melampaui level sebelum pandemi Covid-19. Apa buktinya?

“PDB riil kita pada triwulan kedua tahun ini mencapai Rp2.773 triliun, melampaui level Rp2.735 triliun pada triwulan kedua 2019,” ujarnya saat Konferensi Pers APBN KITA Edisi Agustus 2021, dikutip dari Kantor Berita Antara, Jumat (27/8).

Di sisi lain, kata sang menteri, tetangga-tetangga Indonesia seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina belum bisa melampaui level ekonomi sebelum Covid-19—walau mencatatkan pertumbuhan yang begitu tinggi.

Tak hanya itu, Menkeu juga menyebutkan beberapa hal terkait perekonomian Indonesia pada pertengahan tahun ini. Apa sajakah itu?

1. Penurunan Ekonomi Akibat Covid-19 Cenderung Ringan

Sri Mulyani menilai, walaupun terjadi kontraksi sampai 5,3 persen pada triwulan kedua 2020, penurunan ekonomi Indonesia akibat Covid-19 relatif ringan.

Bahkan, dia menambahkan kondisi ekonomi lokal secara bertahap membaik—sampai bertumbuh 7,07 persen pada triwulan 2021 ini. Kondisi itu serupa dengan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang juga melesat begitu tinggi hingga melampaui level pra-Covid-19, katanya.

Akan tetapi, terjadi inflasi yang tergolong tinggi di AS. “Bedanya AS dan Indonesia, kita bisa melebihi PDB sebelum Covid-19, tapi tidak disertai dengan inflasi yang tinggi,” ujarnya.

2. Beberapa Sektor Tunjukkan Pertumbuhan

Dalam kesempatan yang sama, Sri Mulyani juga membahas sejumlah sektor ekonomi yang mencatatkan peningkatan pada Agustus 2021, yakni ritel, kebutuhan harian, farmasi, dan rekreasi.

Melansir IDN Times, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga mengatakan, “Ini adalah kunci penting, yaitu bagaimana kita tetap mengendalikan Covid-19 dan bisa menjalankan aktivitas ekonomi.”

3. Sektor yang Terdampak PPKM

Kebijakan PPKM berimbas pada roda perekonomian negeri ini. Misalnya, pertumbuhan double digit konsumsi listrik pun kembali turun karena pembatasan itu.

Belum lagi dengan industri besi dan baja yang sempat bertumbuh 150 persen, selama PPKM harus rela menurun menjadi 60 persen. Begitu pula dengan penjualan kendaraan niaga yang terkoreksi walau mencatatkan peningkatan 48 persen.

“Impor barang modal (juga) mengalami lonjakan pada kuartal satu dan kuartal dua, mulai terjadi softening Juli akibat PPKM,” ujarnya lagi.

4. Kunci Pemulihan Ekonomi: Pengendalian Covid-19

Terakhir, Sri Mulyani menyebut, PPKM dilaksanakan akibat penyebaran Covid-19 varian delta; membatasi mobilitas masyarakat dan berimbas pada ekonomi. Pemerintah pun menggencarkan vaksinasi guna memaksimalkan penekanan penyebaran varian itu.

“(Dengan) vaksinasi diharapkan kegiatan industri dan bisnis bisa segera kembali relatif normal, tapi tidak menimbulkan ancaman Covid-19 melonjak lagi,” tutupnya.

Related Articles