Jakarta, FORTUNE - Tren perawatan estetika di Indonesia memasuki fase baru. Jika sebelumnya konsumen identik dengan prosedur yang mengubah kontur wajah secara dramatis, kini permintaan bergeser ke hasil yang lebih natural dan disesuaikan dengan karakter setiap individu. Melihat perubahan tersebut, perusahaan dermatologi global Galderma menghadirkan kombinasi collagen stimulator PLLA-SCA (Poly-L-Lactic Acid–Sterile Carboxymethylcellulose) dan filler NASHA & OBT ke pasar Indonesia. Teknologi yang telah digunakan secara klinis selama lebih dari 25 tahun di berbagai negara itu dinilai tidak hanya mendorong tren personalized treatment, tetapi juga membuka peluang bisnis baru bagi klinik estetika premium.
Founder Beauty Sister Clinic, dr. Elizabeth Lisa, mengatakan tren perawatan estetika kini bergeser dari sekadar mengubah bentuk wajah menjadi mempertahankan tampilan yang alami (natural look). Pergeseran itu juga didorong meningkatnya minat kalangan Gen Z yang mulai menjadikan perawatan kulit sebagai bagian dari gaya hidup dan langkah pencegahan penuaan.
"Mulai usia 20 tahun setiap tahun kolagen yang hilang 1 persen dan di usia 40 sudah hilang 20 persen, jadi lebih baik dilakukan perawatan untuk pencegahan, dari pada saat gejala penuaan semakin banyak membutuhkan biaya yang tidak sedikit," ujar dr. Lisa dalam konferensi pers Unlock the Natural Combination Treatment PLLA-SCA & NASHA-OBT di Jakarta, Jumat (3/7).
Menurutnya, PLLA-SCA baru resmi masuk ke Indonesia pada Januari 2026 dan diluncurkan secara nasional pada Maret 2026. Saat ini teknologi tersebut baru tersedia di 20 klinik utama, termasuk Beauty Sister Clinic.
"PLLA-SCA itu sebenarnya sudah terkenal banget di dunia, dan bahkan di Asia juga sudah ada lama, seperti di Bangkok, di Vietnam. Tapi memang mungkin untuk masuk ke Indonesia perlu proses perizinan. Dari Galderma ini sejak tujuh tahun lalu, tapi sayangnya baru masuk sekarang," kata dr. Lisa.
Teknologi tersebut dikembangkan sebagai collagen stimulator yang bekerja merangsang produksi kolagen alami tubuh sehingga kulit menjadi lebih kencang, kenyal, dan memberikan efek lifting secara bertahap. Sementara itu, teknologi NASHA dan OBT merupakan filler premium dari Galderma yang telah lebih dulu hadir di Indonesia.
dr. Lisa menjelaskan, NASHA digunakan untuk area wajah yang membutuhkan struktur lebih kokoh, sedangkan OBT dirancang untuk area yang lebih dinamis sehingga memerlukan filler yang fleksibel. Kombinasi keduanya memungkinkan dokter menyesuaikan tindakan sesuai karakteristik wajah setiap pasien.
"Dengan dua teknologi ini, dokter dapat melakukan personalized treatment, sehingga hasilnya lebih natural, proporsional, dan sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Ketika collagen stimulator dikombinasikan dengan filler, maka hasilnya sangat optimal. Filler memiliki efek instan dalam face contouring mengisi cekungan di bawah mata atau pipi, dagu serta bagian rahang sedangkan collagen stimulator itu efeknya muncul bertahap, dan semakin lama akan semakin terlihat hasilnya," jelasnya.
Ia menambahkan, collagen stimulator PLLA-SCA dapat bertahan hingga 25 bulan dan diaplikasikan bersamaan dengan filler NASHA & OBT karena keduanya bekerja di area dan mekanisme yang berbeda.
"Keduanya memiliki cara kerja berbeda dan aplikasi di area wajah yang berbeda sehingga bila dikombinasikan akan menghasilkan tampilan yang lebih optimal untuk mengatasi masalah aging," ujarnya.
