54% Gen Z Tak Punya Asuransi, Industri Terhalang Krisis Kepercayaan

- Laporan IMGR 2027 menunjukkan 54% Gen Z dan 41,2% Milenial belum memiliki asuransi, dengan kesenjangan kepemilikan tinggi terutama di kalangan perempuan.
- Alasan utama tidak membeli asuransi adalah rasa cukup dengan BPJS, prioritas keuangan lain, serta anggapan premi terlalu mahal bagi sebagian responden.
- Krisis kepercayaan menjadi hambatan terbesar; 70,7% responden terpengaruh isu penolakan klaim di media sosial yang membuat lebih dari separuhnya ragu membeli asuransi.
Jakarta, FORTUNE - Industri asuransi Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menjangkau generasi muda. Meski minat terhadap perlindungan finansial tergolong tinggi, tingkat kepemilikan asuransi di kalangan Generasi Z dan Milenial masih relatif rendah. Salah satu faktor utama yang menghambat adopsi bukan lagi sekadar literasi keuangan, melainkan persoalan kepercayaan terhadap industri asuransi itu sendiri.
Temuan tersebut terungkap dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 yang diterbitkan oleh IDN Research Institute. Laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh responden atau 47,7 persen belum memiliki asuransi di luar BPJS.
Asuransi kesehatan menjadi produk yang paling banyak dimiliki dengan porsi 32,9 persen, disusul asuransi jiwa sebesar 20,2 persen. Namun, kesenjangan kepemilikan masih terlihat cukup lebar antar kelompok masyarakat. Sebanyak 56 persen responden perempuan tercatat tidak memiliki asuransi, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang mencapai 39,6 persen.
Perbedaan juga terlihat dari sisi generasi. Sebanyak 54,1 persen Gen Z belum memiliki asuransi, sementara pada kelompok Milenial angkanya mencapai 41,2 persen.
"Secara keseluruhan, kesenjangan kepemilikan asuransi masih tinggi. Sebanyak 48 persen responden tidak memiliki asuransi apa pun, sementara asuransi kesehatan menjadi produk yang paling banyak dimiliki dengan porsi 33 persen, yang menunjukkan cakupan perlindungan masih terbatas," ungkap laporan tersebut.
Temuan ini muncul di tengah pertumbuhan industri asuransi nasional yang masih menunjukkan tren positif. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat jumlah tertanggung mencapai 168,03 juta orang sepanjang 2025 atau meningkat 8,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Industri juga membayarkan klaim dan manfaat senilai Rp146,73 triliun kepada 9,59 juta penerima manfaat.
Meski demikian, peningkatan partisipasi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam tingkat adopsi yang lebih luas, khususnya di kalangan generasi muda.
Menurut laporan itu, alasan utama responden tidak membeli asuransi bukan karena tidak memahami produk. Sebaliknya, banyak yang merasa perlindungan dari BPJS sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Sebanyak 36,9 persen responden tidak membeli asuransi tambahan karena merasa telah terlindungi oleh BPJS, yang menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap sistem jaminan kesehatan publik," ungkap laporan tersebut.
Selain itu, sebanyak 32,4 persen responden mengaku memiliki prioritas keuangan lain, sementara 32 persen merasa belum membutuhkan asuransi. Faktor harga juga masih menjadi pertimbangan dengan 26,6 persen responden menilai premi asuransi terlalu mahal.
Khawatir klaim ditolak

Laporan tersebut menyoroti bahwa hambatan terbesar penetrasi asuransi sebenarnya berasal dari kesenjangan kepercayaan antara konsumen dan industri. Sebanyak 17 persen responden secara eksplisit menyebut kekhawatiran terhadap proses klaim yang sulit atau bahkan tidak dibayarkan sebagai alasan utama tidak membeli asuransi. Persentase yang sama juga mengaku belum menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Kekhawatiran tersebut semakin diperkuat oleh maraknya informasi mengenai penolakan klaim yang beredar di media sosial. Menurut survei IDN Research Institute, sebanyak 70,7 persn responden mengaku tingkat kepercayaannya terhadap asuransi terpengaruh oleh pemberitaan atau cerita mengenai klaim yang ditolak.
Dari jumlah tersebut, 51,9 persen menjadi ragu untuk membeli asuransi, sementara 18,8 persen menyatakan tidak lagi mempercayai industri asuransi. Hanya 29,3 persen responden yang tetap memiliki keyakinan terhadap produk asuransi.
"Lebih dari 52 persen responden mengaku enggan membeli asuransi akibat kasus klaim yang ditolak, sedangkan hanya 19 persen yang menyatakan kehilangan kepercayaan secara umum terhadap perusahaan asuransi," ungkap laporan tersebut.
Laporan itu juga menemukan adanya perbedaan persepsi antar generasi. Gen Z cenderung lebih skeptis dibandingkan Milenial ketika menghadapi isu penolakan klaim. Sebanyak 55 persen Gen Z mengaku menjadi ragu membeli asuransi setelah mendengar kasus klaim ditolak, lebih tinggi dibandingkan Milenial yang mencapai 48 persen.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan industri saat ini bukan sekadar meningkatkan literasi keuangan, tetapi membangun kembali infrastruktur kepercayaan melalui transparansi informasi, penyederhanaan proses, serta konsistensi pengalaman pelanggan.
Menariknya, produk asuransi dengan proses klaim yang sederhana dan mudah dipahami, seperti asuransi perjalanan atau penerbangan, cenderung lebih mudah diterima konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman pengguna memiliki pengaruh besar terhadap tingkat penerimaan produk.
Secara keseluruhan, laporan tersebut menggambarkan bahwa Milenial dan Gen Z tetap menyadari pentingnya perlindungan finansial. Namun, mereka menjadi semakin selektif dalam memilih instrumen yang dianggap mampu memberikan rasa aman dan kontrol terhadap kondisi keuangan mereka.
Dengan kata lain, tantangan terbesar industri asuransi saat ini bukan lagi menciptakan kebutuhan, melainkan membangun kembali kepercayaan agar minat yang sudah ada dapat bertransformasi menjadi kepemilikan produk secara nyata.

















