Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kinerja Perusahaan Barang Mewah Ikut Tertekan Akibat Perang Iran
Dok. Instagram @hermes
  • Saham sektor barang mewah Eropa anjlok setelah Hermès dan Kering melaporkan kinerja kuartal pertama di bawah ekspektasi, dipicu konflik Timur Tengah yang menekan penjualan.
  • Hermès mencatat penjualan 4,1 miliar euro tumbuh 5,6 persen, sedangkan Kering turun 6 persen dengan penurunan tajam pada merek Gucci dan pasar Timur Tengah.
  • Ketegangan geopolitik Iran memperburuk volatilitas pasar global dan permintaan barang mewah, meski ada sinyal positif dari peningkatan belanja konsumen di Amerika Serikat dan Cina.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Saham sektor barang mewah di Eropa menurun tajam setelah dua raksasa industri, Hermès dan Kering, melaporkan kinerja kuartal pertama yang berada di bawah ekspektasi pasar. Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, disebut menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja penjualan.

Indeks saham sektor barang mewah menjadi yang terburuk dalam indeks Stoxx 600 pada perdagangan Rabu (15/4). Saham Hermès anjlok hingga 8,2 persen, sementara Kering ditutup melemah 9,3 persen.

Pelemahan tersebut turut menyeret saham perusahaan merek mewah lain seperti Burberry, Christian Dior, dan Moncler yang juga ditutup di zona merah.

Dilansir dari CNBC International, Hermès melaporkan penjualan sebesar 4,1 miliar euro (sekitar US$4,8 miliar) pada kuartal pertama, tumbuh 5,6 persen secara tahunan. Namun, angka tersebut masih di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 7,1 persen.

Perusahaan menyebut aktivitas bisnis “terdampak signifikan” oleh situasi di Timur Tengah, terutama akibat penurunan penjualan di toko konsesi dan bandara.

“Meski terjadi perlambatan arus wisatawan terkait situasi di Timur Tengah, penjualan di toko grup masih meningkat 7 persen,” tulis Hermès dalam laporannya.

Sementara itu, Kering mencatat pendapatan kuartal pertama sebesar 3,57 miliar euro, turun 6 persen secara tahunan.

Kinerja ini terutama terbebani oleh penurunan penjualan merek andalannya, Gucci, yang turun 8 persen secara organik, lebih dalam dari perkiraan pasar sebesar 6 oersen.

Kering juga mengungkapkan bahwa pendapatan ritel di kawasan Timur Tengah mereka anjlok hingga 11persen pada kuartal pertama, setelah sempat mencatat pertumbuhan pada dua bulan awal tahun.

Kawasan tersebut menyumbang sekitar 5 persen dari total pendapatan ritel perusahaan, dengan 79 toko yang beroperasi di wilayah tersebut.

CEO Kering, Luca de Meo, menyatakan bahwa Gucci tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Ia menegaskan bahwa langkah transformasi tengah dijalankan secara menyeluruh, mencakup aspek pelanggan, distribusi, hingga pengembangan produk.

Namun, analis menilai kinerja ini sebagai “uji realitas” bagi upaya pemulihan perusahaan. Menurut mereka, membangun kembali kinerja bisnis jauh lebih sulit dibandingkan membangun optimisme pasar.

Tekanan terhadap sektor barang mewah juga dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Kondisi ini memperburuk volatilitas pasar global, terutama di tengah krisis energi akibat terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.

Meski kontribusi Timur Tengah terhadap total pendapatan perusahaan mewah relatif kecil, kawasan tersebut sebelumnya menjadi titik terang di tengah perlambatan global. Namun, sejak konflik meningkat, permintaan dilaporkan turun drastis hingga 30–70 persen di beberapa pusat perbelanjaan.

Perusahaan barang mewah lainnya, LVMH, juga menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah berdampak negatif sekitar 1 persen terhadap pertumbuhan organik pada kuartal pertama.
Meski demikian, analis masih melihat adanya sinyal positif dari peningkatan belanja konsumen di Amerika Serikat dan Cina, yang berpotensi menjadi penopang pemulihan sektor ini ke depan.

Editorial Team

EditorEkarina .