Roma, FORTUNE - Bangunan putih menyerupai layar kapal itu menjulang dari kejauhan. Orang-orang Roma mengenalnya sebagai Vela di Calatrava–Città dello Sport di Roma—proyek ambisius yang sempat dirancang menjadi ikon baru ibu kota Italia, namun mangkrak bertahun-tahun setelah krisis keuangan global 2008 menghantam Eropa. Kini, bangunan itu akhirnya hidup kembali. Bukan sebagai arena olahraga, melainkan panggung bagi salah satu pertaruhan terbesar dalam sejarah Ferrari.
Roma—yang berjarak 400 km dari Maranello—adalah lokasi Ferrari meraih kemenangan pertamanya, pada hari yang sama tahun 1947, ketika Ferrari 125 S memenangi Gran Premio di Roma di sirkuit Baths of Caracalla. Pada hari bersejarah itu, pembalap Franco Cortese memulai legenda kesuksesan yang saat itu nyaris tak terbayangkan. Dan, 79 tahun kemudian, Ferrari kembali ke Roma untuk memperkenalkan proyek yang menegaskan komitmennya dalam mendefinisikan ulang batas dari apa yang bisa dicapai.
Sore itu, sekitar 200 jurnalis dari berbagai negara berdiri dalam antrean panjang di pintu masuk. Sebelum masuk ke area utama, petugas memeriksa ponsel, laptop, kacamata pintar para tamu secara satu per satu. Lensa kamera, depan dan belakang, harus ditutup stiker merah. Tidak ada yang boleh memotret, merekam, dari awal hingga akhir acara, bahkan 12 jam setelahnya.
Malam itu menjadi kali pertama Ferrari memperkenalkan mobil listriknya. Namanya Luce, yang dalam bahasa Italia berarti “cahaya”. Sebuah nama yang terdengar ironis untuk mobil listrik berbobot lebih dari dua ton.
Namun, justru di situlah inti dari ambisi ini. Ferrari tidak sedang meninggalkan mesin pembakaran internal—yang menjadi sumber identitas, suara, dan emosi merek berlambang kuda jingkrak itu—melainkan membuka cabang baru: era elektrifikasi.
“Ferrari tidak pernah didefinisikan oleh apa yang menggerakkannya. Ferrari selalu didefinisikan oleh apa yang membuat Anda merasakan sesuatu,” kata John Elkann, Executive Chairman Ferrari.
Di atas panggung, CEO Ferrari, Benedetto Vigna, tampil tanpa euforia berlebihan. Tidak ada presentasi teknis berlebihan khas perusahaan teknologi Silicon Valley. Tidak ada jargon yang dipaksakan. Yang dibicarakan justru emosi, jiwa, dan pengalaman. Pria yang menjabat sebagai orang nomor satu di Ferrari sejak 2021 itu pun tampil apa adanya: jas biru tanpa dasi.
“Inovasi dimulai dari emosi,” katanya. “Karena emosi adalah bagian terdalam manusia.”
Ferrari menyadari sedang menghadapi dilema besar. Di satu sisi, regulasi emisi global mendorong elektrifikasi. Di sisi lain, pelanggan Ferrari membeli mobil bukan sekadar untuk berpindah tempat. Mereka membeli sensasi: suara mesin V12 yang meraung, getaran perpindahan gigi, hingga tarikan saat pedal diinjak penuh sang pengemudi. Hal-hal yang nyaris hilang dalam mobil listrik.
Menurut Benedetto, Ferrari mengambil dua keputusan penting sejak awal pengembangan Luce lima tahun lalu.
“Pertama, kami harus memulai dari Ferrari, bukan dari teknologi listrik. Kedua, kami harus memulai dari dimensi manusia—dari jiwa,” katanya.
Keputusan itu terdengar sederhana. Namun, konsekuensinya tidaklah kecil. Ferrari tidak ingin sekadar membuat EV yang bisa melaju cepat. Mereka ingin menciptakan mobil listrik yang tetap terasa seperti Ferrari. Seluruh pengalaman berkendara pun harus dibangun ulang dari nol.
Untuk mengembangkan Luce, Ferrari mengambil langkah yang tidak lazim dengan menggandeng LoveFrom, kolektif desain yang didirikan Sir Jony Ive dan Marc Newson. Jony Ive dikenal sebagai sosok di balik desain berbagai produk Apple, mulai dari iPhone hingga MacBook.
“Kami ingin orang dari luar ikut membangun Luce,” kata Benedetto.
Flavio Manzoni, Head of Design Ferrari, menyebut proyek ini sebagai salah satu pekerjaan paling radikal dalam kariernya.
“Selama bertahun-tahun, Ferrari berkembang secara evolusioner. Tetapi, kali ini kami membutuhkan perspektif yang benar-benar baru,” ujarnya.
