Jakarta, FORTUNE - Raksasa barang mewah asal Prancis, LVMH, melaporkan tekanan terhadap kinerja penjualannya akibat dampak konflik Iran, yang menekan belanja konsumen di kawasan Teluk serta mengurangi jumlah wisatawan di Eropa.
Perusahaan yang membawahi merek seperti Louis Vuitton, Dior, Bulgari, dan Hennessy ini menyebut perang tersebut memangkas setidaknya 1 persen dari total penjualan grup pada kuartal pertama 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru di kalangan investor terhadap prospek pemulihan industri barang mewah global yang nilainya mencapai US$400 miliar.
Secara keseluruhan, penjualan kuartalan LVMH hanya tumbuh 1 persen setelah disesuaikan dengan fluktuasi mata uang, lebih rendah dari perkiraan analis sebesar 1,5%. Seiring kabar tersebut, saham LVMH yang tercatat di Amerika Serikat turun 3,75 persen, sementara saham Kering, pemilik Gucci, ikut melemah 1,5 persen.
Direktur Keuangan LVMH, Cecile Cabanis, menyatakan kondisi di Timur Tengah belum menunjukkan perbaikan sejak gangguan besar di pusat perbelanjaan pada awal konflik. “Yang kami lihat saat ini, permintaan masih sangat lemah.”
Penurunan aktivitas ritel di kawasan Teluk menjadi faktor utama. Laporan menyebut penjualan pusat perbelanjaan di Dubai anjlok hingga 50 persen sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari. LVMH juga mencatat lalu lintas pengunjung pusat perbelanjaan di kawasan yang menyumbang sekitar 6 persen pendapatan grup sempat merosot antara 30 persen hingga 70 persen.
“Yang perlu dipahami adalah bahwa Timur Tengah merupakan pasar yang sangat menguntungkan. Jika Anda kehilangan 1 euro dalam penjualan, kemungkinan kerugian pada margin akan lebih besar,” ujar Cabanis.
Melansir Business of Fashion, tekanan juga terasa di pasar Eropa, di mana penjualan turun 3 persen akibat penguatan mata uang euro serta dampak konflik. Sementara itu, segmen inti fesyen dan produk kulit yang menyumbang sekitar 80 persen laba operasional, kembali mencatat penurunan 2 persen secara organik, menandai penurunan tujuh kuartal berturut-turut.
Kinerja merek utama seperti Louis Vuitton dan Dior disebut sejalan dengan penurunan divisi tersebut, meski Dior tengah menjalani pembaruan di bawah desainer baru, Jonathan Anderson.
Di tengah tekanan global, pasar Amerika Serikat menjadi titik terang. LVMH mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 3 persen di negara tersebut, dengan belanja konsumen tetap kuat meski konflik belum berdampak signifikan terhadap sentimen.
Namun demikian, kekhawatiran terhadap prospek industri tetap membayangi. “Kita telah mengalami dua hingga tiga tahun krisis di sektor barang mewah,” kata Laurent Chaudeurge. “Dan ketika kita berharap mulai keluar dari krisis, justru kembali terpukul oleh situasi di Timur Tengah.”
Sepanjang tahun ini, saham LVMH telah merosot 26 persen, menjadikannya salah satu perusahaan berkapitalisasi besar dengan kinerja terburuk di Eropa. Meski begitu, sebagian analis masih menilai 2026 berpotensi menjadi tahun pemulihan bagi industri barang mewah, setelah lebih dari dua tahun stagnasi, dengan catatan ketegangan geopolitik tidak semakin memburuk.
