Jakarta, FORTUNE - Harga minyak global melonjak ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Hal ini dipicu kekhawatiran pasar terkait perundingan nulkir antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan Trading Economics, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik sekitar 0,85 persen dalam sehari ke level US$72,09 per barel pada pukul 11:02 WIB. Sejalan dengan itu, minyak mentah berjangka WTI naik 0,94 persen dalam sehari ke level US$67 per barel, level tertinggi dalam tujuh bulan terahir.
"Pasar minyak mentah tetap tegang seiring dimulainya kembali pembicaraan AS-Iran minggu ini. Ketegangan perdagangan yang kembali meningkat juga membebani sentiment," kata Daniel Hynes, Analis ANZ, dikutip dari Reuters, Selasa (24/2).
Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar perundingan nuklir putaran ketiga pada Kamis (26/2) di Jenewa, sebagaimana diungkap Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, pada Minggu.
"Amerika Serikat menginginkan Iran untuk menghentikan program nuklirnya, tetapi Iran dengan tegas menolak, dan membantah sedang berupaya mengembangkan senjata atom," demikian tulis Reuters dalam laporannya.
Selain itu, pergerakan harga minyak dipicu kebijakan perdagangan. Trump menyatakan peringatan kepada negara-negara mitra dagang agar tidak mundur dari kesepakatan perdagangan yang baru saja dirundingkan dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul setelah Mahkamah Agung membatalkan kebijakan tarif darurat yang sebelumnya ia tetapkan.
Trump menegaskan, apabila ada negara yang mencoba menarik diri dari perjanjian tersebut, pemerintahannya tidak ragu memberlakukan bea masuk yang jauh lebih tinggi.
Tony Sycamore, analis pasar GI mengatakan dengan kondisi pasar saat ini harga minyak berpeluang tetap berada diatas kisaran US$55-US$66,60. Jika harga berhasil menembus level tertinggi kisaran itu secara berkelanjutan, maka kemungkinan besar mengalami kenaikan lebih lanjut menuju US$70,00–US$72,00. Sebaliknya, jika terjadi penurunan, kemungkinan akan terjadi koreksi kembali menuju US$61,00.
