Mandiri Sekuritas Ramal IHSG Tembus 7.400 pada 2022, Ini Pendorongnya

Jakarta, FORTUNE - PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menembus level 7.400 pada akhir 2022. Pergerakkan IHSG ditopang oleh pemulihan perkonomian nasional dan kenaikan konsumsi domestik.
Selain itu, ekspektasi kenaikan pendapatan dan laba terhadap emiten yang telah terlihat sejak paruh kedua 2021 juga akan menyokong target IHSG. Sebagai gambaran, indeks mobilitas mulai menunjukkan tingkat pemulihan yang baik pada November 2021 hingga Januari 2022.
Kepercayaan konsumen yang sudah membaik disertai harga komoditas yang cenderung masih tinggi menambah keyakinan.
“Terlebih, kenaikan kasus Omicron masih tergolong terkendali, tidak seperti kasus varian Delta pada tahun lalu, kami cukup yakin earnings growth yang kami proyeksikan masih bisa tercapai tahun ini," kata Head of Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer dalam Fix Income and Equity Outlook 2022, Rabu (23/2).
Sektor penyokong pergerakan IHSG pada 2022
Mandiri Sekuritas juga memprediksi pertumbuhan laba (earning growth) tahun ini sekitar 15 persen. Di mana dua pertiga di antaranya berasal dari perbankan, ditambah dengan konsumsi domestik.
“Kalau tahun lalu kan dari pemulihan pasar ekspor, karena negara di luar lebih dulu pulih” kata Joezer.
Selain perbankan, Joezer mengatakan ada tiga sektor lain yang menurutnya prospektif karena berhubungan dengan pemulihan ekonomi, yaitu sektor consumer discretionary, energi dan komoditas.
“Karena memang persistensinya sangat tinggi untuk komoditas ini. Beberapa perusahaan komoditas di Indonesia juga road map energi net zero sehingga saya rasa itu mendapatkan impact positif dari investor,” ujarnya.
Dibanyangi risiko ekonomi dan geopolitik global
Meski demikian, sejumlah risiko global juga menurutnya masih tetap membayangi pasar modal. Pasar global bisa dibilang mengalami kondisi volatile dan tidak menutup kemungkinan volatilitas itu akan berlanjut di tengah potensi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) sebagai pengetatan kebijakan moneter.
Belum lagi dengan rencana pengurangan neraca keuangan yang masih belum menemukan titik terang. “Skema seperti apa dan secepat apa? Itu kan memang masih menjadi tanda tanya, perdebatan kubu A dan B masih terjadi,” jelasnya.
Ditambah dengan risiko kondisi geopolitik, seperti konflik Ukraina dan Rusia yang memicul ketidakpastian. Namun demikian, meski situasi global penuh tantangan, arah kebijakan Indonesia sudah berada di jalur yang benar.
Dari sisi domestic economy Indonesia juga masih sangat konsisten. Dengan risiko tersebut, stabilotas ekonomi masih bisa terjaga.
"Jangan pesimistis dengan pasar Indoneisa, karena secara domestik pemulihan ekonomi bisa jadi sentimen positif bagi IHSG," katanya.


















