Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Pasar Menanti Data IKK Maret, IHSG Diproyeksi Naik Terbatas
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta, FORTUNE Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat terbatas pada Jumat (10/4), setelah ditutup naik 0,39 persen kemarin sore.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG masih berpotensi bergerak di antara kisaran 7.200 – 7.310. Saham-saham yang ia soroti hari ini, yakni: EMTK, RAJA, dan ESIP.

Pelaku pasar tetap mencermati perkembangan konflik Iran–AS–Israel, pergerakan harga komoditas global khususnya minyak. "Serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan mempengaruhi arah kebijakan suku bunga global," kata Reza dalam riset hariannya.

Kemarin, IHSG ditutup di zona hijau setelah sempat tertekan pada awal sesi akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik pasca wacana gencatan senjata. Penguatan di sesi kedua ditopang oleh saham-saham seperti DSSA, BRPT, dan CUAN, meskipun masih dibayangi aksi jual asing sebesar Rp1,77 triliun. Dari sisi makro, sentimen juga cenderung negatif seiring penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh World Bank menjadi 4,7 persen.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, IHSG berpotensi limited upside meskipun masih terjadi fase bullish consolidation. Di sisi lain, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, namun volume menurun.

Sentimen de-eskalasi konflik Israel-Lebanon mulai mengemuka setelah Israel mengatakan akan memulai negosiasi dengan Lebanon, dimana negosiasi akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan pembuka hubungan damai antara Israel dan Lebanon.

Namun, Nafan berujar, US sticky inflation masih membayangi pergerakan market pada hari ini ketika US Core PCE per Februari 2026 yang tidak termasuk makanan dan energi, meningkat 3 persen, dan US PCE per Februari 2026 untuk semua barang meningkat 2,8 persen.

"Hal itu akan mempengaruhi sikap the Fed untuk tetap hawkish dengan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir 2026, sehingga rawan terkena aksi profit taking dari pelaku pasar, sebab the Fed menggunakan indeks harga PCE sebagai tolok ukur utama dalam menargetkan inflasi, yakni pada 2 persen," katanya dalam riset.

Dari dalam negeri, para pelaku pasar akan menantikan data IKK dan penjualan mobil per Maret 2026. Terkait IKK, terdapat momentum puncak karena perayaan Idul Fitri pada akhir Maret. Secara historis, IKK sering naik pada periode lebaran karena faktor pencairan THR maupun lonjakkan konsumsi domesitik.

Hanya saja, pelemahan rupiah ke level di atas Rp17.000 membuat konsumen kelas menengah mulai waspada terhadap kenaikan harga barang-barang impor, terutama elektronik maupun otomotif.
"Apabila IKK tidak naik setinggi tahun lalu, maka faktor kurs inilah merupakan penyebab utamanya," kata Nafan.

Editorial Team