Pasar Wait and See Review FTSE, Laju IHSG Diproyeksikan Terbatas

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih diperkirakan bergerak terbatas pada Rabu (8/4), setelah ditutup melemah 0,26 persen ke level 6.971.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memproyeksikan IHSG melaju pada kisaran support 6.950-6.900 dan resisten antara 7.050-7.065. Saham-saham yang ia soroti hari ini, meliputi: TKIM, MAPI, dan KUAS.
"Bias melemah dan tertekan akan tetap ada di pasar selama kondisi risk off perang masih terjadi dan juga capital outflow dari investor asing," kata Reza dalam risetnya.
Kemarin, ada tekanan jual investor asing sebesar Rp1,78 triliun. Di sisi lain, tensi Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan inflasi. Sentimen itu turut menekan rupiah ke Rp17.015 per dolar AS seiring dengan penguatan dolar.
"Selain itu, pasar masih wait and see terhadap hasil review FTSE Russell yang akan menentukan arah arus modal asing," ujar Reza.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menjelaskan, indikator Stochastic RSI mendekati area overbought. Namun pembentukan histogram positif MACD masih berlanjut. Sehingga diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi pada kisaran 6.900-7.100.
Dengan diperpanjangnya batas waktu dari AS bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz, diperkirakan berpotensi mendorong rebound dalam jangka pendek.
"Namun, mengingat kondisi ketidakpastian yang masih tinggi, IHSG diperkirakan masih akan cenderung bergerak sideways," kata tim riset Phintraco Sekuritas.
Dari sisi perekonomian domestik, defisit APBN 2026 yang telah mencapai 0,93 persen PDB pada kuartal-I 2026 juga menjadi faktor negatif. Defisit APBN pada kuartal I-2026 ini lebih lebar dari defisit di kuartal-I 2025 yang mencapai 0,43 persen PDB.
Kenaikan defisit meningkatkan risiko outflow investor asing, terutama dari SBN, sehingga berpotensi akan meningkatkan yield obligasi yang juga dapat menekan saham-saham di sektor keuangan.
Kenaikan yield juga dapat menaikkan biaya pinjaman bagi korporasi, yang berpotensi menekan laju pertumbuhan penyaluran kredit sektor perbankan dan berpotensi meningkatkan cost of fund yang harus ditanggung oleh sektor perbankan.
Phintraco Sekuritas menambahkan, di tengah meningkatnya ketidakpastian investor dapat memanfaatkan musim pembagian dividen oleh emiten yang tengah berlangsung. Beberapa emiten yang secara historis membagikan dividen relatif tinggi, di antaranya grup ASII, grup ADRO, ITMG dan PTBA.
"Selain itu investor masih akan menerapkan trading jangka pendek. Sementara itu BEI optimis proses evaluasi terhadap sistem perdagangan dengan skema Full Call Auction (FCA) dapat diselesaikan pada kuartal-II 2026," kata tim Phintraco.
Daftar saham pilihan Phintraco Sekuritas hari ini: ESSA, AKRA, BRPT, CPIN, dan JPFA.


















