Jakarta, FORTUNE - Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan fokus bank sentral dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global, yang salah satu bentuknya adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara maju.
Kenaikan yield surat utang di Amerika Serikat (AS), Jepang, hingga negara lainnya menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap pasar keuangan domestik masih tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang BI akan perhitungkan dalam merumuskan kebijakan ke depan.
“Ini sesuai dengan pengamatan kami juga dalam assessment kami terakhir. Kami memang menghadapi situasi higher for longer,” kata Destry usai pengucapan sumpah jabatan di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9).
Menurut dia, kondisi higher-for-longer itu ditandai dengan tingginya yield obligasi, inflasi di negara-negara maju, serta tingkat suku bunga. Situasi tersebut membuat ketidakpastian global masih cukup besar dan berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia.
“Ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik,” ujarnya.
Destry menambahkan, dalam menghadapi tekanan tersebut, BI pada tahap awal akan tetap menempatkan stabilitas sebagai fokus utama kebijakan. Namun, BI memiliki ruang menggunakan kombinasi berbagai instrumen kebijakan agar stabilitas dan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan beriringan.
“Stance kami di awal ini memang tetap akan fokus pada stabilitas,” kata Destry.
Dia menjelaskan, BI tidak hanya memiliki instrumen kebijakan moneter. Bank sentral juga memiliki kebijakan makroprudensial serta kebijakan sistem pembayaran yang dapat digunakan untuk merespons dinamika ekonomi dan pasar keuangan.
Selain itu, BI memiliki sejumlah kebijakan lain yang berkaitan dengan pengembangan UMKM, ekonomi syariah, serta pendalaman pasar keuangan.
“Nah tentunya di kebijakan itu kami akan bermain, mana yang akan lebih pro-stability, mana yang akan lebih pro-growth,” ujarnya.
Dengan demikian, BI akan menggunakan kombinasi kebijakan atau policy mix sebagai instrumen utama merespons tekanan eksternal. Pendekatan tersebut memungkinkan BI menentukan instrumen yang lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas maupun mendorong pertumbuhan, tergantung kondisi ekonomi yang dihadapi.
