Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Tekan Kerugian, Widodo Makmur (WMUU) Beberkan Strategi Efisiensinya

Tekan Kerugian, Widodo Makmur (WMUU) Beberkan Strategi Efisiensinya
PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) merupakan emiten sektor Barang Konsumen Primer dengan bidang usaha utama peternakan ayam dan perdagangan pakan ternak. (widodomakmurunggas.co.id)
Intinya Sih
  • WMUU berhasil menekan rugi kotor hingga 77 persen menjadi Rp12,8 miliar dan rugi bersih turun 31 persen berkat efisiensi produksi serta peningkatan utilisasi aset.
  • Pendapatan WMUU melonjak 96 persen menjadi Rp740,9 miliar pada 2025, didorong pertumbuhan penjualan segmen karkas yang naik 132 persen secara tahunan.
  • Perseroan fokus optimalisasi aset tanpa ekspansi agresif di 2026 melalui rights issue senilai Rp600 miliar untuk memperkuat modal kerja dan meningkatkan kapasitas produksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Emiten peternakan, PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) masih membukukan kerugian di periode 2025. Namun demikian, rugi bersih perseroan turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang dicapai melalui sejumlah strategi.

Rugi kotor WMUU tercatat berhasil ditekan hingga 77 persen menjadi Rp12,8 miliar pada 2025.

Direktur Keuangan WMUU, Wahyu Andi Susilo, mengatakan perbaikan tersebut ditopang oleh efisiensi produksi di segmen rumah potong serta membaiknya laba kotor pada segmen DOC. Selain itu, peningkatan utilisasi aset juga berkontribusi terhadap penurunan kerugian.

Alhasil, rugi bersih ikut membaik menjadi Rp83,3 miliar, turun 31 persen dibandingkan rugi pada periode 2024 yang senilai Rp120,8 miliar. "Penurunan rugi bersih didorong oleh efisiensi biaya pokok penjualan (HPP) serta beban usaha," kata Andi dalam paparan kinerja WMUU, yang dikutip secara daring, Kamis (2/4).

Perbaikan kinerja ini juga ditopang oleh lonjakan pendapatan. Sepanjang 2025, WMUU membukukan pendapatan Rp740,9 miliar atau naik 96 persen dibandingkan Desember 2024. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada segmen karkas yang melonjak 132 persen secara tahunan.

Presiden Direktur WMUU, Ali Mas'adi, menambahkan bahwa penurunan kerugian tidak lepas dari strategi efisiensi yang dijalankan perseroan di tengah tekanan industri unggas pada 2024.

"Tahun 2024 industri poultry ini memang luar biasa, harga DOC drop sehingga memengaruhi kerugian cukup besar. Sehingga kami mengambil langkah salah satunya itu menyutilisasi aset dari farm breeding untuk kami convert jadi player," kata Ali.

Selain itu, perseroan menerapkan standar animal welfare sebagai peluang baru. Ayam petelur yang biasa dikandangkan satu persatu dilepas seperti layaknya breeding. Dengan metode ini, WMUU memperoleh sertifikasi animal welfare dan membuka akses ke segmen pasar dengan permintaan khusus, termasuk dari pelanggan korporasi seperti McDonald.

Untuk 2026, WMUU akan fokus pada strategi optimalisasi tanpa ekspansi agresif. Perseroan berencana memaksimalkan aset yang telah dimiliki, seiring rencana aksi korporasi melalui rights issue, salah satunya untuk mengonversi utang menjadi saham sehingga bisa menurunkan beban dan menambah modal baru.

Adapun, tambahan modal akan digunakan untuk meningkatkan utilisasi fasilitas produksi yang masih belum optimal. "Kami tidak melakukan capex baru, tetapi melanjutkan fasilitas yang sudah ada untuk dikonversi, termasuk untuk pengembangan ayam petelur," kata Andi.

WMUU menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp600 miliar dari rights issue, dengan komposisi Rp400 miliar melalui skema debt to equity swap dan Rp200 miliar dari investor publik. Dana tersebut akan difokuskan untuk memperkuat modal kerja serta meningkatkan kapasitas produksi berbasis fasilitas yang sudah tersedia.

Adapun total aset perseroan tercatat Rp2,33 triliun pada 2025, turun sekitar 2,5 persen secara tahunan yang diakibatkan penyusutan aset tetap. Ekuitas juga turun 9,3 persen menjadi Rp777,9 miliar, sejalan dengan masih dibukukannya rugi bersih tahun berjalan.

Sementara itu, liabilitas meningkat tipis 1,3 persen menjadi Rp1,55 triliun, didorong oleh kenaikan kewajiban yang masih harus dibayar. Rasio utang terhadap aset (debt to asset ratio) turut naik menjadi 0,67 kali pada akhir 2025, dari 0,64 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Share
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .
Follow Us

Latest in Market

See More