Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Apa itu Waste to Energy? Kenali Cara Kerja dan Manfaatnya

tempat pembuangan sampah
ilustrasi tempat pembuangan sampah (Unsplash.com/Nathan Cima)
Intinya sih...
  • Waste to Energy adalah teknologi pengolahan sampah menjadi energi berguna dan dapat dijadikan sebagai energi alternatif.
  • Terdapat dua jenis teknologi yang umum digunakan, yaitu termal (gasifikasi, plasma arc gasification, depolymerization, pyrolysis) dan non-termal (fermentasi, anaerobic digestion).
  • Manfaat Waste to Energy antara lain mengurangi penumpukan sampah, mendukung pengelolaan limbah berkelanjutan, menambah pasokan energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mendorong investasi serta lapangan kerja baru.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penumpukan sampah dan penggunaan bahan bakar fosil menjadi isu global serius di zaman modern. Tidak sedikit negara yang mulai berinvestasi pada sumber energi alternatif berteknologi canggih.

Menghadapi tantangan tersebut, BPI Danantara menggagas proyek pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WtE). Proyek berskala nasional tersebut digadang-gadang menjadi solusi untuk krisis energi dan sampah di Indonesia.

Sebenarnya apa itu Waste to Energy yang sedang diupayakan pemerintah? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini.

Apa itu Waste to Energy?

Waste to Energy adalah teknologi yang mampu mengolah sampah menjadi bentuk energi berguna dengan menggunakan panas. Teknologi ini dianggap sebagai salah satu metode pengelolaan limbah terkendali untuk mengatasi masalah penimbunan sampah.

Penerapan teknologi Waste to Energy disebut mampu mengurangi sampah sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Teknologi tersebut mampu membakar limbah yang tidak dapat dihindari atau didaur ulang. 

Proses pembakaran akan menghasilkan berbagai bentuk energi, seperti uap, listrik, atau air panas. Menariknya, emisi gas rumah kaca diklaim lebih rendah dibandingkan pengelolaan limbah lainnya.

Cara kerja Waste to Energy

Teknologi WtE bukan sekadar tren, metode tersebut menjadi solusi penting dalam mengurangi sampah dan menghasilkan energi secara bersamaan. Metode yang digunakan cukup beragam.

Secara keseluruhan, ada dua jenis teknologi yang umum digunakan untuk mengubah sampah menjadi energi, yaitu teknologi termal dan non-termal. Berikut penjelasan lengkapnya.

Teknologi termal

  • Gasification: Cara ini dilakukan dengan mengonversi substansi yang mengandung karbon menjadi karbon dioksida, karbon monoksida, dan hidrogen. Prosesnya menggunakan temperatur tinggi tanpa ada pembakaran.
  • Plasma arc gasification: Menggunakan obor plasma untuk mengionisasi gas menjadi gas sintesis. Proses ini mampu menghasilkan listrik.
  • Depolymerization atau hydrous pyrolysis: Metode yang memanfaatkan dekomposisi termal antara air dan komponen organik yang dipanaskan dalam suhu tinggi.
  • Pyrolysis: Menggunakan sampah dari agrikultur atau limbah organik dari industri. Metodenya mirip dengan hydrous pyrolysis, bedanya tidak menggunakan oksigen.

Teknologi non-termal

  • Fermentasi: Memanfaatkan proses kimiawi pada substansi organik melalui enzim dalam keadaan tidak ada oksigen.
  • Anaerobic digestion: Menggunakan mikroorganisme untuk menghancurkan substansi dalam limbah. Ini dapat menangkap pelepasan energi yang dihasilkan selama prosesnya.

Manfaat Waste to Energy

Waste to Energy dianggap sebagai solusi inovatif dalam mengatasi permasalahan sampah sekaligus menghasilkan energi. Tren perubahan iklim dan kebutuhan energi bersih yang semakin masif menjadikan teknologi WtE sebagai strategi penting dalam mengolah limbah.

Berikut beberapa manfaat Waste to Energy bagi masyarakat.

1. Mengurangi penumpukan sampah 

Teknologi ini terbukti efektif dalam mengurangi volume sampah secara signifikan di tempat pembuangan akhir (TPA), hingga 90 persen.

2. Mendukung pengelolaan limbah berkelanjutan

Penerapan WtE secara strategis mendukung upaya pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Memanfaatkan kembali sumber daya dari limbah, mendukung ekonomi sirkular.

3. Menambah pasokan energi

Proses pengolahan sampah menjadi energi dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga industri. Hal ini juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

4. Mengurangi emisi gas rumah kaca

Teknologi WtE diklaim lebih ramah lingkungan dibandingkan pengolahan limbah lainnya, yang menghasilkan lebih sedikit emisi gas rumah kaca dengan kontrol ketat. 

5. Mendorong investasi dan lapangan kerja baru

Pembangunan fasilitas Waste to Energy menarik investor untuk berinvestasi di sektor pengelolaan sampah dan berpotensi membuka lapangan kerja baru.

Tantangan Waste to Energy di Indonesia

Meski menjanjikan, penerapan Waste to Energy di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Manfaatnya bisa kurang maksimal apabila penerapan WtE dilakukan tanpa persiapan matang. 

Adapun tantangan penerapan teknologi tersebut di Indonesia, yaitu sebagai berikut:

1. Potensi polusi udara

Proses WtE tidak sepenuhnya bersih karena pengangkutan dan pembakaran limbah berpotensi menghasilkan emisi karbon dan partikulat udara lainnya. Tanpa pengawasan dan kontrol ketat, ada potensi polusi udara yang membahayakan.

2. Biaya operasional tinggi

Pembangunan fasilitas WtE memerlukan biaya operasional tinggi sehingga pemerintah perlu mempersiapkan investasi yang sangat besar.

3. Kualitas sampah

Sampah di negara berkembang mungkin tidak memiliki nilai kalori yang sesuai standar untuk insinerasi. Prosesnya bisa menjadi jauh lebih mahal apabila negara harus mengimpor sampah sebagai bahan bakar insinerator.

4. Kebutuhan sampah skala besar

Proyek teknologi WtE untuk komersial membutuhkan pasokan sampah yang besar. Hal ini dapat sulit dipenuhi beberapa wilayah tanpa agregasi antarwilayah.

5. Kesiapan dan sinergi

Tanpa dukungan sistem pengelolaan sampah yang matang, penerapan teknologi ini bisa tidak efisien. Kinerja fasilitas WtE bisa menjadi kurang optimal karena kurangnya kesiapan dan sinergi.

Demikian rangkuman mengenai Waste to Energy yang diharapkan dapat mengatasi masalah sampah modern dengan mengolahnya menjadi energi. Semoga bermanfaat!

FAQ seputar Waste to Energy

Apakah Waste to Energy aman bagi lingkungan?

Ya, asalkan teknologi tersebut menggunakan sistem penyaringan emisi yang ketat. Di Indonesia, standar emisi ini diatur ketat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Bagaimana cara kerja Waste to Energy?

Metode yang paling umum adalah insinerasi atau pembakaran, di mana sampah dibakar pada suhu tinggi untuk menghasilkan uap.

Apakah Waste to Energy menjadi solusi utama untuk masalah sampah di Indonesia?

Waste to Energy merupakan bagian penting dari strategi pengelolaan sampah yang terintegrasi, tetapi bukan satu-satunya solusi. Keberhasilannya sangat bergantung pada perbaikan sistem pengelolaan sampah, dukungan pemerintah, dan sosialisasi kepada masyarakat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in News

See More

Kriteria Pegawai MBG Diangkat Jadi PPPK, Ini Kata BGN

15 Jan 2026, 17:24 WIBNews