Jakarta, FORTUNE – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pemerintah akan melanjutkan impor bahan bakar minyak (BBM) dari Rusia sebagai bagian dari strategi memperkuat cadangan energi nasional.
Setelah pengadaan tahap pertama berhasil direalisasikan, pemerintah berkomitmen menjadikan skema tersebut sebagai langkah berkelanjutan menjaga ketahanan pasokan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Bahlil menegaskan impor BBM dari Rusia dilakukan atas permintaan pemerintah Indonesia dan bukan merupakan transaksi komersial yang dilakukan oleh badan usaha. Seluruh proses pengadaan dilaksanakan melalui mekanisme kerja sama antar-pemerintah atau Government to Government (G2G).
"Yang melakukan impor BBM Rusia itu adalah pemerintah Indonesia, G2G dan kami dari pemerintah menugaskan Lemigas sebagai BLU di ESDM yang melakukannya," kata Bahlil saat konferensi pers di Istana Negara sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (29/7).
Dalam skema tersebut, pemerintah menunjuk Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian ESDM untuk menangani aspek teknis pengadaan impor.
Meski demikian, Bahlil belum mengungkapkan volume maupun nilai impor BBM dari Rusia pada tahap pertama tersebut.
Menurut dia, kebijakan impor ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga stok energi nasional tetap berada di atas batas minimum sehingga mampu mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat dinamika rantai pasok global.
"Ini akan terus menerus karena tujuannya adalah untuk menjaga cadangan kita. Jangan sampai terjadi kekurangan dan sekaligus memastikan bahwa energi dalam negeri kita bisa tersedia," ujarnya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan pemerintah tidak memandang impor dari Rusia sebagai langkah sementara, melainkan sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar energi dunia.
