Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Bahlil Pertimbangkan Impor BBM dari Brunei Darussalam
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangannya kepada media usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/3/2026). Sumber: YouTube Sekretariat Presiden
  • Peluang impor dibuka demi memperkuat ketahanan energi nasional.

  • Brunei tertarik mempelajari pengalaman Indonesia dalam diversifikasi energi.

  • Kedua negara menjajaki kerja sama teknologi migas, termasuk penerapan Enhanced Oil Recovery oleh Pertamina, serta potensi investasi Brunei di infrastruktur dan pelatihan energi Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah Indonesia mulai melirik Brunei Darussalam sebagai pelabuhan baru untuk mengamankan pasokan minyak bumi nasional. Peluang penjajakan impor ini mencuat usai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menggelar pertemuan bilateral dengan Deputy Minister (Energy) Brunei, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah, di sela-sela forum energi kawasan di Jepang.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam perhelatan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM), sebuah hajatan yang menjadi ruang bagi negara-negara Indo-Pasifik untuk menata masa depan ketahanan energi di kawasan. Bahlil menandaskan, pembicaraan kedua negara tidak sekadar berkutat pada diskursus transisi energi atau hijau-birunya energi terbarukan, melainkan menyentuh urusan perut bumi: ketersediaan pasokan minyak.

“Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman,” ujar Bahlil seperti dikutip dari keterangan resminya, Minggu (15/3).

Langkah Jakarta ini bukan tanpa kalkulasi. Sebagai salah satu pemain utama migas di Asia Tenggara, Brunei mengantongi kapasitas produksi sekitar 100.000 hingga 110.000 barel per hari. Angka yang cukup menggiurkan bagi Indonesia guna menjaga stabilitas stok domestik agar tak limbung dihantam fluktuasi global.

Namun, diplomasi ini agaknya tak berjalan satu arah. Bandar Seri Begawan pun menyimpan kepentingan yang tak kalah besar. Brunei, yang 99 persen pembangkit listriknya masih bergantung pada gas, mulai gelisah dan berhasrat menyapih ketergantungan tersebut. Mereka melirik pengalaman Indonesia dalam meracik bauran energi yang lebih heterogen.

Pemerintah Brunei bahkan tengah merancang peta jalan untuk mendongkrak kapasitas pembangkit listrik nasionalnya hingga lima kali lipat. Dari kapasitas terpasang saat ini yang berkisar 1 gigawatt, negara kaya minyak itu berencana menyuntikkan tambahan 4 gigawatt pembangkit baru.

“Ini momentum emas bagi kolaborasi kawasan. Brunei melihat Indonesia sudah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai sumber,” kata Bahlil.

Selain urusan arus minyak, tautan kerja sama ini merambah ke ranah teknis yang lebih pelik: teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Brunei menunjukkan ketertarikan pada keahlian PT Pertamina (Persero) dalam menyuntikkan napas baru ke sumur-sumur minyak tua melalui metode EOR. Selama ini, Brunei mengandalkan teknik water flooding, namun kini mereka mulai mempertimbangkan chemical flooding. Metode yang disebut belakangan tersebut telah diuji coba di Tanah Air.

Mohamad Azmi sendiri tak menutupi kekagumannya.

“Kami tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kami sudah menggunakan water flooding dan percaya bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR,” ujarnya.

Indonesia menyatakan kesiapannya memfasilitasi transfer pengetahuan teknis antarperusahaan energi kedua negara. Tak berhenti di hulu, kerja sama ini juga membuka pintu bagi Brunei untuk membenamkan investasinya pada infrastruktur energi di wilayah pelosok Indonesia melalui koridor pembangunan ekonomi nasional, hingga urusan penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor migas dan auditor energi terbarukan. 

Editorial Team