Jakarta, FORTUNE - Dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah mulai dirasakan oleh pelaku industri pangan nasional. Holding BUMN pangan, ID Food, mengungkapkan margin bisnis daging impor berpotensi tergerus akibat ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, mengatakan ketidakpastian global saat ini berisiko memicu volatilitas harga pangan, termasuk komoditas daging yang masih bergantung pada impor.
“Margin bisnis daging impor terkikis. Dengan kurs yang naik dan harga di negara asal juga naik, itu pasti berdampak,” kata dia dalam acara rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR-RI, Senin (30/3).
Menurut Ghimoyo, terdapat tiga faktor utama yang saat ini memengaruhi industri pangan global, yakni ketegangan geopolitik, pemanasan global, serta sektor energi yang memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok pangan.
Kombinasi faktor tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik, yang pada akhirnya meningkatkan biaya distribusi. Di sisi lain, gangguan produksi akibat perubahan iklim juga dapat memicu lonjakan harga komoditas pangan di pasar global.
Meski harga daging di dalam negeri belum mengalami kenaikan signifikan, Ghimoyo mengakui dampak tekanan tersebut mulai terasa pada sisi pengadaan.
“Sudah terasa, karena belinya sudah tidak masuk,” katanya.
Untuk meredam risiko tersebut, ID Food menegaskan akan mengambil peran sebagai stabilisator ekosistem pangan nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal guna mengantisipasi guncangan geopolitik, perubahan iklim, maupun krisis energi.
Di tengah tantangan tersebut, kinerja keuangan ID Food justru menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang 2025, perusahaan mencatatkan laba Rp393 miliar, ditopang oleh peningkatan pendapatan menjadi Rp27,4 triliun, dari sebelumnya Rp18,3 triliun pada 2024.
Pertumbuhan pendapatan tersebut didorong oleh penjualan tiga produk utama, yakni gula, daging sapi, dan daging kerbau. Sementara itu, total aset perusahaan juga meningkat menjadi Rp53,9 triliun, dari Rp52,4 triliun pada tahun sebelumnya.
