BPJS Kesehatan Gelontorkan Rp50,3 T untuk Pengobatan Penyakit Kronis

- BPJS Kesehatan mengalokasikan Rp50,3 triliun pada 2025 untuk membiayai hampir 60 juta kasus penyakit kronis seperti jantung, stroke, gagal ginjal, dan kanker.
- Tren usia penderita penyakit kronis bergeser ke kelompok produktif bahkan di bawah 40 tahun akibat gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan cepat saji dan kurang olahraga.
- Klinik Sehat Setia Brebes aktif mengedukasi masyarakat melalui Prolanis dan media sosial, sementara BPJS meluncurkan Prolanis Muda bagi peserta JKN di bawah 45 tahun dengan hipertensi atau diabetes.
Jakarta, FORTUNE – Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mengucurkan Rp50,3 triliun demi menjinakkan 59,9 juta kasus penyakit kronis. Mulai dari jantung yang tersumbat, stroke yang melumpuhkan, hingga gagal ginjal dan kanker yang menguras energi. Celakanya, komplikasi maut ini seringkali bermuara dari hal yang dianggap sepele: hipertensi dan diabetes melitus yang tak terkendali.
Namun, ada potret yang lebih mencemaskan di balik angka-angka tersebut. Berdasarkan data internal BPJS Kesehatan, peta demografi penderita kini bergeser tajam. Penyakit yang dulu identik dengan rambut memutih dan usia senja, kini mulai mengerubungi mereka yang berada di usia produktif. Sebuah ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kenyataan ini terekam jelas di Klinik Sehat Setia, Brebes. Munaryo, sang pemilik klinik, memberikan kesaksian yang menggetarkan. Dahulu, kliniknya sepi dari pasien penyakit kronis di bawah usia 40 tahun. Kini, ceritanya berbalik.
“Setiap bulan kami mengelola 400-450 pasien diabetes melitus, hipertensi, dan jantung. Rata-rata usianya memang 40 tahun ke atas. Namun dalam lima tahun terakhir, semakin banyak pasien yang usianya di bawah 40 tahun. Bahkan kini kami punya pasien hipertensi dan pasien diabetes melitus berusia di bawah 30 tahun,” kata Munaryo melalui keterangan resmi yang dikutip Rabu (13/5).
Apa penyebabnya? Munaryo menunjuk gaya hidup sebagai biang keladi multifaktorial. Generasi muda saat ini seolah sedang menimbun masalah lewat pola makan yang didominasi makanan cepat saji dan minuman ringan, tanpa dibarengi aktivitas fisik memadai.
“Kebiasaan ini sudah merembet ke anak-anak kecil, sehingga saya pribadi memprediksi dalam 20 tahun mendatang tren penderita pasien kronis berusia muda bisa menjadi tinggi sekali. Kalau tidak segera ditangani, bahaya. Bisa menjadi bom waktu bagi kita,” katanya.
Sebagai pionir Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di wilayah Brebes, Klinik Sehat Setia tak tinggal diam. Edukasi rutin digulirkan, mulai dari ruang periksa hingga merambah grup WhatsApp dan media sosial. Bagi Munaryo, dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) adalah garda depan yang memegang kunci pemahaman pasien.
Ia menekankan, pendekatan medis saja tidak cukup. Pasien penyakit kronis seringkali dihantui bayang-bayang kematian dan pesimisme. Di sinilah peran dukungan keluarga dan sentuhan rohani menjadi krusial. “Kami upayakan pendekatan sosiologis maupun dari sisi rohani agar pasien tidak pesimis. Kami yakinkan bahwa penyakitnya bisa dikendalikan dengan hidup sehat,” ujarnya.
Menanggapi fenomena ini, BPJS Kesehatan mencoba menginisiasi solusi lewat Prolanis Muda. Program ini menyasar peserta JKN di bawah usia 45 tahun yang sudah terdiagnosis hipertensi atau diabetes. Lewat pendekatan berbasis komunitas, program ini diharapkan mampu merombak perilaku hidup generasi muda secara berkelanjutan—sebelum bom waktu itu benar-benar meledak.

















