Jakarta, FORTUNE - Laporan terbaru Deloitte bertajuk Powering Asia Pacific’s Data Centre Boom: Unlocking Sector Growth menyoroti pentingnya strategi transisi energi bersih serta peningkatan kapasitas pembangkitan listrik untuk membuka potensi penuh industri pusat data di Asia Pasifik. Meski ekspansi pusat data menawarkan peluang ekonomi besar, lonjakan kebutuhan listrik berpotensi menekan sistem energi regional yang sudah menghadapi tekanan.
Riset menunjukkan pertumbuhan sektor ini tetap dapat berlangsung pesat tanpa membebani jaringan listrik, selama operator mengadopsi strategi pengadaan energi bersih yang mampu menambah pasokan listrik, meningkatkan keandalan, sekaligus mempercepat dekarbonisasi.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa pendekatan power-first dalam perencanaan dan investasi dapat menjadikan pertumbuhan pusat data sebagai katalis bagi sistem energi yang lebih bersih, tangguh, dan terjangkau, bukan justru menghambat pencapaian target iklim dan energi nasional. Di sisi lain, ekspansi pusat data juga menghadirkan tantangan energi yang kompleks. Tanpa perencanaan yang matang, pertumbuhan yang cepat berisiko memperpanjang antrean koneksi jaringan listrik, meningkatkan volatilitas harga listrik bagi konsumen lain, serta memperlambat penghentian pembangkit beremisi tinggi.
Sementara itu, energi bersih kini menjadi sumber pembangkitan baru yang paling cepat dikembangkan dan kerap lebih kompetitif di banyak pasar Asia Pasifik, didorong oleh penurunan harga panel surya dan baterai, keterbatasan pasokan pembangkit gas baru, serta penguatan kebijakan iklim di berbagai negara. Dalam konteks tersebut, proyek pusat data berpotensi memainkan peran penting dalam transisi energi regional, selama pengembangannya dirancang untuk menambah kapasitas energi bersih baru serta mendukung stabilitas jaringan listrik, bukan sekadar memanfaatkan pasokan yang sudah tersedia.
"Asia Pasifik sedang berada di titik kritis. AI, layanan cloud, dan konektivitas digital terus melonjak, mendorong investasi besar-besaran pada pusat data yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Di seluruh kawasan, jaringan listrik sudah berada di bawah tekanan untuk melakukan dekarbonisasi sekaligus menjaga keterjangkauan, ketahanan, dan keamanan energi," ujar Will Symons, Deloitte Asia Pacific Sustainability Leader, dalam keterangan resmi, Rabu (11/3).
Dia menambahkan, menerapkan pendekatan power-first dengan energi bersih adalah langkah yang sangat penting untuk menggerakkan pusat data baru, mempercepat dekarbonisasi, dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Namun, keterbatasan akses terhadap energi kini menjadi salah satu hambatan utama bagi ekspansi pusat data di Asia Pasifik. Di sejumlah pasar utama, antrean koneksi jaringan listrik dan keterbatasan kapasitas jaringan mulai terlihat. Bahkan di beberapa lokasi, kebutuhan listrik yang direncanakan untuk pusat data telah melampaui peningkatan kapasitas jaringan yang dijadwalkan. Kondisi ini menegaskan pentingnya memasukkan pertimbangan energi dalam pemilihan lokasi, desain fasilitas, hingga keputusan investasi sejak tahap awal.
