Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ekspor Sarang Burung Walet ke Cina Tersendat Isu Aluminium
Proses pengolahan sarang walet. (Dok. Situs Web PT Abadi Lestari Indonesia Tbk)

Jakarta, FORTUNE - Pasar ekspor sarang burung walet Indonesia ke Cina tengah diuji. Sejumlah produk tertahan setelah otoritas setempat menemukan kandungan aluminium di atas batas yang diperkenankan. Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah berupaya memulihkan ekspor sarang burung walet ke Cina, menyusul langkah otoritas kepabeanan negara tersebut yang menghentikan sementara beberapa pengiriman dari Indonesia. Penghentian ini dipicu oleh temuan kandungan aluminium yang melampaui ambang batas yang ditetapkan.

Sebagai bagian dari langkah pemulihan, Kemendag menggelar China-Indonesia Bird’s Nest Trade Summit dengan mempertemukan 20 pelaku usaha nasional dan pembeli dari Cina. Forum ini bertujuan memperkuat kembali akses pasar sekaligus merespons temuan otoritas setempat terkait kandungan aluminium di atas ambang batas (>100 ppm) pada produk sarang burung walet asal IndonesiaMelalui forum tersebut, pemerintah juga membahas hasil temuan General Administration of Customs China (GACC) yang menjadi dasar penghentian sementara ekspor dari sejumlah perusahaan Indonesia.

"Selain untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga akses pasar sarang burung walet di Cina, kami mendiskusikan temuan GACC mengenai kandungan aluminium di atas ambang batas pada produk produk sarang burung walet Indonesia yang berdampak pada suspensi 18 perusahaan," ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi dalam keterangan resmi, Selasa (14/4).

Cina masih menjadi tujuan utama ekspor sarang burung walet Indonesia dengan porsi mencapai 80,15 persen. Namun, pada 2025 nilai ekspor ke negara tersebut tercatat US$380,20 juta, turun 11,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun dalam lima tahun terakhir masih mencatat tren pertumbuhan sebesar 2,66 persen.

Puntodewi menegaskan bahwa pemerintah bersama para pemangku kepentingan telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mengatasi tantangan yang dihadapi industri ini.

"Pemerintah terus berkomunikasi intensif melalui jalur diplomasi perdagangan dan teknis terkait temuan kandungan aluminium oleh GACC. Upaya ini dilakukan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas parameter pengujian yang digunakan," kata dia.

Ia juga mengapresiasi respons cepat eksportir dalam melakukan audit internal dan memperbaiki sistem produksi, terutama dalam memperketat pengendalian kualitas. Pemerintah akan terus mengawal proses verifikasi agar perusahaan yang terkena suspensi dapat segera kembali mengekspor.

"Upaya ini merupakan bukti industri sarang burung walet Indonesia sangat serius menjaga reputasinya di pasar internasional. Pemerintah akan terus mengawal proses verifikasi ini agar ke-18 perusahaan dapat segera kembali mengirim ke Cina," katanya, menambahkan.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, menyatakan pemerintah mendorong pemanfaatan peluang dari kekosongan pasokan sekitar 300 ton akibat suspensi sementara tersebut.

"Peluang ini diharapkan dapat dimanfaatkan pelaku usaha lain yang telah memenuhi kualifikasi untuk menjaga pangsa pasar Indonesia di Cina," kata Miftah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selain Cina, pasar ekspor sarang burung walet Indonesia pada 2025 mencakup Hong Kong (US$36,26 juta), Singapura (US$19,75 juta), Vietnam (US$15,48 juta), dan Amerika Serikat (US$12,77 juta).

"Indonesia tetap menjadi pemasok sarang burung walet terbesar dunia dengan nilai ekspor mencapai US$ 551,56 juta atau berkontribusi sebesar 58,31 persen terhadap pasar global pada 2025," kata Puntodewi.

Adapun pada periode Januari–Februari 2026, nilai ekspor tercatat US$83,04 juta, turun 10,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, ekspor global sarang burung walet Indonesia pada 2025 mencapai US$474,35 juta, turun 16,27 persen dibandingkan 2024.

Editorial Team