NEWS

Ketimpangan Beban Rumah Tangga Hambat Kesetaraan Gender di Dunia Kerja

Rata-rata perempuan garap 75 persen pekerjaan rumah tangga.

Ketimpangan Beban Rumah Tangga Hambat Kesetaraan Gender di Dunia KerjaFounder Narasi TV Najwa Shihab dalam Fortune Indonesia Summit 2023. (Doc: IDN Media)

by Hendra Friana

16 March 2023

Jakarta, FORTUNE - Founder Narasi TV, Najwa Shihab, mengatakan pembagian beban domestik antara laki-laki dan perempuan penting untuk mencapai kesetaraan gender di dunia kerja. Pasalnya, kata dia, hingga kini lebih banyak pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang dibebankan kepada perempuan ketimbang laki-laki.

Dia menyebut keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan domestik (mulai dari pengasuhan anak, perawatan orang tua, memasak, dan lain-lain) hanya meningkat 7 menit dalam kurun 1980-an hingga 1990-an.

"Kesetaraan di dunia kerja tidak akan mungkin tercapai kalau tidak ada kesetaraan pembagian pekerjaan rumah tangga. Kuncinya demokrasi domestik. Itu yang akan menentukan menurut saya," ujarnya dalam acara Fortune Indonesia Summit 2023, di Jakarta, Kamis (16/3).

Rendahnya peran lelaki dalam pekerjaan domestik masih terjadi hingga sekarang. Bahkan dalam masa pandemi, ketimpangan itu jauh lebih berdampak buruk pada perempuan ketimbang laki-laki. Pasalnya, beban domestik selama pandemi meningkat, sementara pada saat bersamaan mereka juga berlaku sebagai profesional yang harus ditangani.

"Data menunjukkan waktu kita karantina di rumah aja, bapak-bapak di rumah aja, di semua golongan ekonomi, di semua tingkatan pendidikan, kehadiran bapak atau suami di rumah yang hampir 24 jam tidak meningkatkan keterlibatan mereka dalam urusan domestik. Itu faktanya," katanya.

Dalam kesempatan sama, Phillia Wibowo, Partner and Leader of McKinsey’s People & Organizational Performance Practice in Southeast Asia, mengafirmasi bahwa besarnya beban domestik perempuan berpengaruh pada tingkat partisipasi perempuan di dunia kerja.

Mengacu pada laporan McKinsey’s bertajuk COVID-19 and gender equality: Countering the regressive effects, ia mengatakan bahwa pekerjaan domestik tersebut sebetulnya berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB), namun tidak terbayar.

"Yang unpaid domestic care, itu yang kita highlight di paper kita. Itu banyak banget women yang mengerjakan domestic care, and i'ts actually GDP contributing activity, tapi unpaid," ujarnya.

Perempuan rata-rata tangani 75 persen pekerjaan domestik

Mengutip laporan McKinsey’s, dari tiga per empat penyebab meningkatnya risiko perempuan kehilangan pekerjaan, salah satunya adalah beban domestik yang lebih banyak ditanggung perempuan. "Salah satu yang penting adalah unpaid care, yang tuntutannya telah meningkat secara substansial selama pandemi," demikian laporan tersebut.

Laporan itu menjelaskan 75 persen dari total pekerjaan domestik termasuk merawat anak, merawat orang tua, memasak, dan bersih-bersih dilakukan oleh perempuan. Di beberapa wilayah seperti Asia Selatan dan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), bagian perempuan dari pekerjaan perawatan tidak berbayar mencapai 80 hingga 90 persen.

"Penelitian power of parity, kami menemukan bahwa bagian perempuan dalam pekerjaan perawatan tidak berbayar memiliki korelasi yang tinggi dan negatif dengan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan dan korelasi yang cukup negatif dengan peluang perempuan untuk berpartisipasi dalam pekerjaan profesional dan teknis atau menduduki posisi kepemimpinan," begitu isi laporan dimaksud.