Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Investasi Hijau di Indonesia Terbuka, Bidik 100 GW Pembangkit EBT
Foto udara suasana Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Tambaklorok di Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
  • Pemerintah Indonesia menargetkan pembangunan PLTS hingga 100 GW pada 2029 sebagai bagian dari percepatan transisi energi nasional.

  • Kementerian ESDM menegaskan komitmen menciptakan iklim investasi hijau yang kondusif.

  • PLN bersama mitra strategis akan mempercepat proyek EBT seperti PLTS dan BESS.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah Indonesia kian agresif membuka peluang investasi hijau seiring ambisi besar membangun kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) pada 2029. Target ini menjadi bagian dari arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat transisi energi nasional.

Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Wanhar Abdurrahim, menyatakan pengembangan PLTS dalam skala besar tidak hanya ditujukan demi menekan emisi karbon, tetapi juga menjawab lonjakan kebutuhan listrik dari sektor digital, khususnya pangkalan data yang diproyeksikan tumbuh hingga 20 persen per tahun di kawasan ASEAN.

“Pemerintah Indonesia tengah mengakselerasi transisi energi dengan membuka peluang investasi hijau yang sangat besar,” kata dia dalam peluncuran Enlit Asia-Electricity Connect 2026 di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (17/4).

Menurutnya, pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui kebijakan yang konsisten, guna memastikan pasokan energi bersih tetap kompetitif bagi industri masa depan. Hal ini menjadi penting di tengah pertumbuhan eksponensial kebutuhan listrik untuk infrastruktur digital di Indonesia.

Melalui forum tersebut, pemerintah mengajak seluruh pemangku kepentingan berkolaborasi dalam menjawab tantangan kebutuhan listrik yang terus meningkat.

“Kami mengundang kolaborasi melalui kebijakan yang konsisten dan inovatif,” kata Wanhar.

Ketua Umum Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Suroso Isnandar, menilai sinergi antara Kementerian ESDM, PLN, dan asosiasi industri menjadi kunci mendorong percepatan transisi energi. Menurutnya, peran asosiasi sangat penting menjembatani kebijakan, kesiapan industri, serta inovasi teknologi.

Ajang ini, menurutnya, tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga menjadi platform strategis mempercepat pengembangan sektor energi di Asia Tenggara. Acara ini akan mempertemukan lebih dari 11.000 peserta dan 280 exhibitor dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, utilitas, pelaku industri, hingga penyedia teknologi.

Dalam konteks lebih luas, kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan Indonesia diperkirakan menembus US$500 miliar. Angka ini mencerminkan besarnya peluang yang terbuka bagi investor, khususnya dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengatakan perusahaannya akan memainkan peran sentral dalam merealisasikan peta jalan transisi energi tersebut. PLN akan memaparkan arah kebijakan operasional yang berfokus pada percepatan proyek EBT, termasuk pengembangan PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS), serta penguatan sistem kelistrikan nasional.

“Melalui acara ini, kami akan memberikan policy direction PLN yang jelas, mulai dari akselerasi proyek PLTS dan BESS hingga penguatan program listrik desa,” ujar Darmawan.

Meski demikian, ia mengakui transformasi sektor energi tidak bisa dilakukan sendiri. PLN membuka ruang kolaborasi luas dengan berbagai mitra strategis, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk membangun infrastruktur kelistrikan yang bersih, andal, dan berdaya saing global.

Editorial Team