KAI Butuh Rp9,18 Triliun untuk Pengadaan KRL Hingga 2027

- KAI membutuhkan Rp9,18 triliun untuk pengadaan armada KRL baru hingga 2027.
- Lonjakan jumlah penumpang KRL diproyeksikan mencapai 437 juta pada 2030.
- Pendanaan akan didapatkan dari pinjaman perbankan dan ekuitas perusahaan.
Jakarta, FORTUNE - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menggarisbawahi kebutuhan investasi besar untuk pengadaan armada KRL baru hingga 2027. Pasalnya, jumlah penumpang diproyeksikan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan kebutuhan pendanaan tersebut mencapai Rp9,18 triliun, yang menjadi syarat penting agar layanan KRL tetap mampu mengangkut penumpang.
“Kalau kita lihat kenaikan volume penumpang dari KRL terutama di Jabodetabek ini, itu akan menjadi 437 juta pada tahun 2030. Dan rata-rata kenaikan penumpang itu 4 persen per tahun. Kalau kita lihat proyeksi dari tahun 2024 itu sekitar 33 persen,” kata Bobby dalam sesi dengar pendapat dengan Komisi XI DPR-RI, Senin (9/2).
Secara harian, layanan KRL diperkirakan akan melayani hingga 2 juta penumpang pada 2030, melonjak dari posisi saat ini yang mencapai sekitar 1,1 juta penumpang.
“Juli kemarin itu naik sampai 1,3 juta, dan di akhir tahun ini juga berkisar antara 1,2 juta–1,25 juta per harinya,” kata Bobby.
Selain pertumbuhan jumlah penumpang, tingkat kepadatan pada jam sibuk juga menjadi sorotan. Bobby mengatakan lonjakan signifikan akan terjadi jika pemerintah dan KAI tidak segera menambah unit.
“Kalau kita lihat tingkat okupansi saat peak hour nantinya, proyeksi 2030 diperkirakan enam kalinya dari sekarang, 630 persen. Apabila tidak dilakukan penambahan sarana, tidak semua penumpang dapat terangkut dan tentunya berisiko pada aspek keselamatan,” ujarnya.
Sudah begitu, kondisi armada KRL sudah makin menua. Ada 31 trainset telah berusia lebih dari 30 tahun dan akan segera memasuki masa konservasi. Menurut Bobby, hal ini membuat jumlah armada saat ini jauh dari kondisi ideal, karena KAI juga harus mempertimbangkan kebutuhan perawatan dan unit cadangan.
KAI kini ditenagai oleh kereta bekas impor dari JR East, Jepang, sebanyak 780 unit dan Tokyo Metro 128 unit. Kemudian, jumlah kereta baru mencakup 132 unit atau 11 trainset buatan CRRC Qingdao Sifang Co., Ltd, serta 48 unit atau empat trainset produksi INKA.
Untuk membiayai kebutuhan pengadaan KRL hingga 2027, KAI menghitung total kebutuhan pendanaan Rp9,18 triliun, yang bersumber dari kombinasi pinjaman perbankan dan ekuitas perusahaan.
“Dengan porsi pendanaan itu dikasih perbankan sebanyak 3,69 triliun dan porsi ekuitas total 5,49 triliun,” ujar Bobby.
Porsi ekuitas ini terdiri dari kas internal PT Kereta Commuter Indonesia sebesar Rp0,19 triliun, PMN 2024 Rp2 triliun berdasarkan PP 52/2024, PMN 2025 Rp1,8 triliun berdasarkan PP 51/2025, serta usulan PMN 2026 sebesar Rp1,5 triliun.
















