Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KAI-INKA Mulai Merger, Ungkap Kebutuhan 156 Rangkaian KRL hingga 2040
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin dalam Kick-Off Integrasi KAI dengan PT INKA (Persero). (dok. KAI)
  • KAI dan INKA resmi memulai integrasi strategis untuk memperkuat ekosistem industri perkeretaapian nasional, dengan fokus pada sinergi antara operator dan produsen.
  • Proyeksi kebutuhan mencapai sekitar 156 rangkaian KRL hingga tahun 2040, menjadi peluang besar bagi pengembangan industri manufaktur kereta api dalam negeri.
  • Integrasi diharapkan meningkatkan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, serta koordinasi perencanaan agar layanan kereta lebih andal, aman, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA resmi memulai proses integrasi strategis yang menjadi langkah awal menuju penguatan ekosistem industri perkeretaapian nasional. Salah satu potensi terbesar yang diungkap dalam proses integrasi ini adalah proyeksi kebutuhan sekitar 156 rangkaian kereta rel listrik (KRL) hingga 2040, yang dinilai menjadi pasar besar bagi industri manufaktur kereta api dalam negeri.

Proses penggabungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) alias INKA mulai dilakukan di Jakarta, Selasa (21/7).

Integrasi kedua perusahaan pelat merah ini dinilai mampu mengembangkan industri manufaktur KA di Indonesia.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan kebutuhan sarana perkeretaapian nasional akan terus meningkat seiring pertumbuhan mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, hubungan antara operator dan produsen perlu semakin terintegrasi agar pengembangan industri berjalan lebih efektif.

"Integrasi KAI dan INKA merupakan langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang semakin kuat. Proyeksi kebutuhan sarana perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan desain, kapasitas produksi, pengujian, dan penyerahan produk yang lebih selaras," kata Bobby dalam keterangannya yang dikutip Rabu (22/7).

Menurut Bobby, salah satu peluang terbesar berasal dari kebutuhan armada KRL. Berdasarkan perhitungan awal KAI, hingga 2040 dibutuhkan sekitar 156 rangkaian KRL.

"Peluang pengembangan industri ini sangat besar. Angka tersebut belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel, sarana kereta api jarak jauh, lokomotif, serta sarana untuk layanan barang," katanya.

Artinya, potensi permintaan terhadap industri manufaktur nasional masih jauh lebih besar apabila memperhitungkan kebutuhan berbagai jenis sarana perkeretaapian lainnya.

Dorong kapasitas manufaktur nasional

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Bobby menilai industri dalam negeri harus terus meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat penguasaan teknologi, menjaga kualitas produk, sekaligus memastikan spesifikasi sarana sesuai dengan kebutuhan operasional.

Ia menilai integrasi dengan INKA akan membuat koordinasi antara operator dan produsen menjadi lebih efektif, sehingga proyeksi kebutuhan armada dan kesiapan produksi dapat direncanakan sejak awal.

"KAI sangat mendukung integrasi ini karena dampaknya berkaitan langsung dengan layanan masa depan. Semakin kuat industri manufaktur nasional, semakin besar kemampuan kita menyediakan sarana yang aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Kebutuhan armada tersebut sejalan dengan terus meningkatnya jumlah pengguna jasa kereta api. Pada semester I-2026, jumlah pelanggan KAI Group mencapai 258,99 juta orang, naik 7,55 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan itu dinilai menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan sarana sekaligus menjaga aspek keselamatan, keandalan, dan kenyamanan layanan.

Bobby menambahkan, keberhasilan integrasi tidak hanya bergantung pada aspek bisnis, tetapi juga pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penerapan praktik terbaik industri.

"Keberhasilan integrasi membutuhkan konsistensi, peningkatan kompetensi, dan penerapan acuan industri terbaik. Kita ingin membangun industri manufaktur kereta api nasional yang mampu mendukung perkembangan layanan dan kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT INKA, Bambang Jatmika, mengatakan kick-off integrasi menjadi tonggak penting setelah rencana tersebut dibahas selama beberapa tahun.

Menurutnya, integrasi akan mempertemukan pengalaman KAI dalam memetakan kebutuhan operasional dengan kemampuan INKA dalam desain, rekayasa, dan produksi sarana kereta api.

"Integrasi ini menjadi bagian dari cita-cita membangun industri kereta api nasional yang kuat. KAI dan INKA memiliki peran yang saling berkaitan, mulai dari pemetaan kebutuhan sarana hingga produksi yang mendukung pelayanan kepada masyarakat," ujar Bambang.

Melalui sinergi tersebut, kedua perusahaan akan menyelaraskan proyeksi kebutuhan armada, perencanaan produksi, jadwal pengujian, proses serah terima, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kualitas produk. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article