Jakarta, FORTUNE - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, memproyeksikan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel akan makan banyak waktu.
Menurutnya, dinamika perang yang berkembang saat ini menunjukkan konflik berpotensi berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
“Beberapa pemimpin [Iran] dibunuh, [tapi perlawanan mereka] tidak ada tanda-tanda melemah. Bahwa sekarang persenjataan tembakan yang menurun, itu yang menjadi kunci,” kata Luhut dalam video singkatnya yang diunggah dalam akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan, Kamis (5/3).
Ia menilai karakter bangsa Iran menjadi salah satu faktor yang membuat konflik sulit berakhir cepat. Menurut Luhut, Iran memiliki sejarah panjang sebagai bangsa yang tidak pernah dijajah selama ribuan tahun dan dikenal memiliki semangat perlawanan yang kuat.
Menurutnya, terdapat dua faktor kunci yang dapat menentukan apakah konflik akan segera mereda atau justru berkepanjangan.
Pertama adalah kemampuan lawan untuk melumpuhkan seluruh sistem persenjataan Iran, termasuk roket, drone, serta fasilitas produksi militernya. Kedua, kemungkinan terjadinya pergantian rezim di negara tersebut.
“Spirit rakyat Iran ini kita lihat. Dia embargo hampir empat dekade, tapi tidak pernah goyang,” katanya.
Luhut menilai konflik tersebut tidak hanya menjadi persoalan geopolitik, tetapi juga berpotensi memicu dampak luas terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Salah satu yang paling menohok adalah potensi gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz terganggu.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Jika aksesnya terganggu akibat konflik, harga energi global berpotensi melonjak tajam.
“Hormuz ini tertutup, berapa hari cadangan strategis minyak kita? Ini harus dihitung dengan cermat,” ujar Luhut.
Ia menyebut perhitungan sementara menunjukkan cadangan energi Indonesia berkisar antara 18 hingga 30 hari. Namun angka tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut agar pemerintah dapat menyiapkan langkah antisipatif.
Menurut Luhut, pemerintah perlu segera menyiapkan skenario cadangan, termasuk mencari sumber impor minyak alternatif jika pasokan dari kawasan Timur Tengah terganggu.
Ia juga mengingatkan lonjakan harga minyak global bisa memberikan tekanan pada anggaran negara. Saat ini harga minyak dunia berkisar US$78 per barel, sementara asumsi harga minyak dalam APBN adalah US$70 per barel.
“Kalau harga minyak naik sampai US$100 per barel, itu harus kita cermati betul karena dampaknya ke APBN,” ujarnya.
