Jakarta, FORTUNE - Total impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$21,20 miliar atau melonjak 18,21 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$17,94 miliar. Peningkatan ini dipicu kenaikan impor nonmigas sebesar 16,71 persen dan migas 27,52 persen (YoY).
Sementara itu, kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang, dengan pertumbuhan tertinggi pada barang modal sebesar 35,23 persen, diikuti bahan baku dan penolong 14,67 persen, serta barang konsumsi 11,81 persen (YoY).
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan, kenaikan impor seluruh golongan barang pada Januari 2026 menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi sektor industri pengolahan dan pesanan baru, serta optimisme keyakinan konsumen pada awal 2026. Kondisi yang lumrah terjadi saat industri mengantisipasi kenaikan permintaan menjelang momen Ramadan dan lebaran.
“Hal ini sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari 2026, serta naiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 123,5 menjadi 127,0,” ujar Mendag Busan dalam keterangan resminya, Rabu (4/3).
Di samping itu, peningkatan impor non migas terbesar berasal dari kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang melesat 1.288,48 persen, logam mulia, perhiasan dan permata (HS 71) melonjak 152,50 persen, serta garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) naik 113,81 persen (YoY).
Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas didominasi Cina, Australia, dan Jepang dengan kontribusi gabungan 54,92 persen terhadap total impor nonmigas. Sementara itu, kenaikan impor tertinggi tercatat berasal dari Prancis sebesar 444,56 persen, Zimbabwe 248,85 persen, dan Argentina 201,71 persen (YoY).
“Secara keseluruhan, kinerja perdagangan Januari 2026 menunjukkan fondasi yang kuat di awal tahun. Kondisi ini ditopang oleh konsistensi surplus neraca perdagangan, penguatan ekspor industri pengolahan, serta peningkatan pada aktivitas produksi dan kepercayaan konsumen domestik,” ungkap Mendag Busan.
