Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Neraca Dagang RI Akhirnya Defisit Setelah Surplus Selama 72 Bulan
Ilustrasi ekspor (pexels.com/Wolfgang Weiser)
  • Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit US$1,61 miliar setelah 72 bulan surplus, dipicu lonjakan defisit migas sebesar US$3,76 miliar.
  • Perdagangan nonmigas masih surplus US$2,15 miliar berkat ekspor bahan bakar mineral, minyak nabati, serta besi dan baja yang tetap positif meski belum menutup defisit migas.
  • Secara kumulatif Januari–Mei 2026, neraca dagang masih surplus US$4,03 miliar dengan ekspor naik 3,02 persen dan impor tumbuh lebih tinggi hingga 15,24 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit, data menunjukkan fondasi ekspor Indonesia tetap kuat, terutama di sektor nonmigas yang terus mencetak surplus dan tumbuh hampir empat persen. Kinerja positif industri pengolahan dengan pertumbuhan tahunan 6,80 persen menegaskan daya saing produk nasional, sementara kenaikan impor mesin mengindikasikan aktivitas produksi domestik yang masih dinamis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Rangkaian surplus neraca perdagangan Indonesia yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut (enam tahun) akhirnya terhenti. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan barang Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit US$1,61 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan pembalikan tersebut dipicu oleh pembengkakan defisit sektor minyak dan gas (migas) yang mencapai US$3,76 miliar.

"Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual, Rabu (1/7).

Menurut BPS, tingginya impor minyak mentah dan produk hasil minyak masih menjadi penyebab utama pelebaran defisit sektor migas. Sebaliknya, perdagangan nonmigas masih mampu merengkuh surplus US$2,15 miliar, meski belum cukup menutup defisit migas.

Surplus nonmigas tersebut ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral (HS27), lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), serta besi dan baja (HS72) yang masih menunjukkan kinerja positif.

Meski mengalami defisit pada Mei, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 masih membukukan surplus US$4,03 miliar.

Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai US$16,31 miliar, sementara sektor migas masih mencatatkan defisit US$12,28 miliar.

Selama lima bulan pertama tahun ini, nilai ekspor Indonesia mencapai US$115,36 miliar, naik 3,02 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong ekspor nonmigas yang meningkat 3,89 persen menjadi US$110,19 miliar.

Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh Cina, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi gabungan 44,20 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional.

Berdasarkan sektornya, ekspor hasil industri pengolahan menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 6,80 persen secara tahunan. Sebaliknya, ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 24,95 persen, sedangkan ekspor hasil pertambangan dan sektor lainnya menyusut 8,14 persen.

Di sisi lain, impor Indonesia tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Selama Januari-Mei 2026, nilai impor mencapai US$111,33 miliar, meningkat 15,24 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya.

Impor nonmigas mencapai US$93,88 miliar, atau naik 13,16 persen, sedangkan impor migas melonjak 27,89 persen menjadi US$17,45 miliar.

Dari 10 kelompok barang impor utama nonmigas, peningkatan terbesar terjadi pada kelompok mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya yang naik US$2,34 miliar atau 16,92 persen dibandingkan dengan Januari-Mei 2025.

Sebaliknya, impor logam mulia dan perhiasan mengalami penurunan terbesar, yakni US$350 juta atau 10,99 persen.

Dari sisi negara asal, Cina masih menjadi pemasok utama barang impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$39,27 miliar atau setara 41,83 persen dari total impor nonmigas. Posisi berikutnya ditempati Jepang sebesar US$5,17 miliar dan Australia sebesar US$5,02 miliar.

Sementara itu, impor nonmigas Indonesia dari negara-negara ASEAN mencapai US$13,97 miliar atau 14,88 persen dari total impor nonmigas, sedangkan dari Uni Eropa bernilai US$6,19 miliar atau 6,59 persen. 

Editorial Team

Related Article