Sebelum mengumumkan akuisisi, delegasi Pertamina bersama Pertamina Hulu Energi (PHE) sempat kunjungan kerja ke Aljazair pada 20–22 Oktober 2026. Kunjungan tersebut dipimpin Wakil Direktur Utama sekaligus Deputy CEO Pertamina, Oki Muraza. Tujuan kunjungan adalah memperkuat kemitraan energi serta membahas keberlanjutan operasi hulu migas di negara itu.
Dalam agenda pada 21 Oktober, delegasi bertemu dengan sejumlah pemangku kepentingan. Mulai dari bertemu regulator sektor hidrokarbon Aljazair ALNAFT, Menteri Hidrokarbon dan Pertambangan Mohamed Arkab, hingga perusahaan migas nasional Sonatrach.
Pembahasan mencakup keberlanjutan operasi Blok 405A, koordinasi program kerja, kelancaran pasokan minyak mentah ke Indonesia, dan peluang pengembangan kerja sama baru.
Oki mengatakan kemitraan dengan Aljazair bukan hanya hubungan komersial, tetapi kerja sama strategis jangka panjang.
"Indonesia dan Aljazair memiliki ikatan persaudaraan yang kuat sejak era Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika, dan hubungan ini harus terus kita jaga dan perkuat. Karena itu, kemitraan dengan Aljazair bagi Pertamina bukan sekadar hubungan komersial, melainkan kemitraan strategis jangka panjang,” ujar Oki, dikutip Kamis (5/11).
Sealin itu, Pertamina berkomitmen menjaga operasi Blok 405A dan menjajaki peluang kolaborasi yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
Lapangan migas apa saja yang diakuisisi Pertamina di Aljazair? | Ketiganya adalah Rhourde el Khrouf, Bir el Msana, dan Ourhoud di Cekungan Berkine. |
Melalui perusahaan apa Pertamina melakukan akuisisi? | Akuisisi dilakukan melalui PT Pertamina Algeria EP (PAEP). |
Siapa pemilik sebelumnya dari hak partisipasi tersebut? | Hak partisipasi tersebut sebelumnya dimiliki Moeve melalui dua anak perusahaannya. |
Sejak kapan PAEP mengelola bisnis hulu migas Pertamina di Aljazair? | PAEP mengelola operasional dan investasi hulu migas di Aljazair sejak 2012. |