Jakarta, FORTUNE — Investor asal Amerika Serikat (AS) melalui PT Tynergy Technology Group menyiapkan investasi tahap awal senilai US$500 juta atau setidaknya nyaris Rp9 triliun untuk membangun pabrik baterai berbasis teknologi sodium-ion di Batam, Kepulauan Riau.
Fasilitas tersebut akan ditujukan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kendaraan listrik, pangkalan data, hingga penyimpanan energi dari pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.
Presiden Direktur PT Tynergy Technology Group, Yan Purba, mengatakan investasi tersebut merupakan tahap awal pengembangan ekosistem industri energi terbarukan dan teknologi baterai di Indonesia. Perusahaan juga membuka peluang pengembangan investasi lanjutan, termasuk industri semikonduktor.
Pembangunan pabrik di kawasan Wiraraja Industrial Park I, Batam, sebenarnya telah selesai. Saat ini perusahaan tengah melakukan tahap penyelesaian akhir sebelum fasilitas tersebut dapat dikunjungi pada kuartal II hingga kuartal III tahun depan.
Dari sisi teknologi, pabrik tersebut akan memproduksi baterai berbasis sodium-ion. Yan menyebut perusahaan mengembangkan formulasi teknologi yang diklaim mampu bersaing dengan teknologi baterai berbasis lithium yang saat ini lebih banyak digunakan di pasar.
Untuk bahan bakunya, perusahaan berupaya memanfaatkan sumber daya domestik. Baterai sodium-ion memanfaatkan natrium yang dapat diperoleh dari garam, serta material lain seperti grafit.
"Kami ingin ambil semua dari Indonesia kalau bisa," ujarnya di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (29/10).
Dari sisi pasar, Tynergy telah mengantongi komitmen penyerapan produksi atau offtake dari sejumlah mitra di Amerika Serikat. Perusahaan juga menjajaki kerja sama dengan SunPower, perusahaan yang bergerak pada sektor energi surya.
Yan menargetkan sekitar separuh hasil produksi baterai akan diekspor, sedangkan sisanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
