Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prabowo Minta Indonesia Bisa Produksi E20 pada 2028
Pertamina uji coba bioethanol E10 di mobil Toyota. (Dok. Pertamina)
  • Presiden Prabowo menginstruksikan percepatan pengembangan E20 agar Indonesia mampu memproduksi bioetanol mandiri pada 2028, berdasarkan rapat terbatas di Istana Merdeka.
  • Pemerintah memilih tebu sebagai bahan baku utama setelah jagung dan singkong dinilai kurang realistis, serta menugaskan Mentan menyiapkan 2 juta hektare lahan di sejumlah pulau.
  • Danantara ditunjuk membangun industri pengolahan etanol nasional; E20 menjadi tahap awal menuju E50, namun keterbatasan lahan tebu masih menjadi hambatan utama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan pengembangan bahan bakar campuran etanol 20 persen (E20) agar Indonesia mampu memproduksi bioetanol mandiri pada 2028. Kebijakan ini diputuskan dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung olehnya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (16/9).

Langkah tersebut diambil untuk membangun rantai pasok bahan bakar berbasis energi terbarukan secara penuh dari dalam negeri. Usai produksi domestik siap, bahan bakar minyak bumi akan dicampur etanol hingga porsi 20 persen.

"[Rapat terbatas] dipimpin Bapak Presiden langsung. Kami membahas agar dua tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20," kata Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat memberikan keterangan pers usai rapat.

Dari sisi ketersediaan bahan baku, pemerintah menetapkan tebu sebagai komoditas utama pendukung E20. Opsi ini dipilih setelah skema penggunaan komoditas lain dinilai kurang realistis dari kalkulasi bisnis dan teknik panen.

"Lahan, lahan yang ada. Karena tebu itu tidak semua daerah cocok. Tadi sudah dihitung kalau jagung enggak mungkin, enggak masuk hitungannya. Kemudian singkong. Singkong juga dihitung-hitung itu tidak mudah," ujar Zulkifli.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, ditugaskan menyiapkan peta lokasi pengembangan tebu seluas 2 juta hektare. Sebaran area mencakup wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.

Sementara untuk pengolahan pascapanen, pemerintah menunjuk Danantara guna membangun infrastruktur dan industri pemrosesan etanol nasional.

"Dalam dua tahun, kita harus bekerja keras melihat perkembangan dulu yang sekarang. Kita harus mampu untuk menghasilkan E20," katanya.

Pemerintah menempatkan implementasi E20 sebagai pijakan awal menuju transisi energi lanjutan. Dalam jangka panjang, kadar campuran bioetanol diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai E50.

Meski hasil kajian internal menunjukkan target dua tahun tersebut masuk akal, keterbatasan lahan spesifik tebu tetap menjadi hambatan utama operasional di lapangan.

"Memang yang menjadi titik bottleneck adalah lahan," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article