Sepeninggal sang ayah pada 1984, Rachmat Gobel mengambil alih kepemimpinan bisnis keluarga dan meneruskan pengembangan Gobel Group.
Di bawah kepemimpinannya, perusahaan memperkuat kemitraan jangka panjang dengan Panasonic. Perusahaan juga mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada berbagai produk manufaktur.
Saat krisis moneter 1998 melanda Indonesia, Gobel Group memilih fokus pada efisiensi operasional, memperkuat bisnis inti, serta menjaga kepercayaan mitra strategis asal Jepang. Strategi tersebut membuat perusahaan mampu bertahan ketika banyak kelompok usaha besar mengalami kesulitan.
Keberhasilan itu berujung pada kesepakatan PT Gobel International dan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. pada 2000 untuk memperpanjang kerja sama joint venture tanpa batas waktu. Hasilnya, Gobel Group bisa ekspansi ke berbagai sektor usaha, mulai dari elektronik, logistik, properti, makanan, hingga layanan kesehatan.
Sebelumnya pada 1993, Rachmat Gobel mulai memimpin Matsushita Gobel Group. Setahun kemudian, ia mendirikan PT Gobel International sebagai perusahaan induk untuk mengonsolidasikan seluruh kegiatan usaha Gobel Group.
Beberapa lini usaha Gobel Group meliputi:
Panasonic di sektor elektronik dan manufaktur
GoTRANS di bidang logistik, GDSK untuk layanan katering industri
Satake pada teknologi pengolahan beras
Vuteq di industri komponen otomotif
Châteraisé yang mengelola jaringan toko kue asal Jepang melalui lisensi master di Indonesia.
Selain memimpin Gobel Group, Rachmat juga pernah menjabat sebagai komisaris di sejumlah perusahaan terbuka, antara lain PT Indosat Tbk, PT SMART Tbk, dan PT Visi Media Asia Tbk.