Jakarta, FORTUNE — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan kerja sama energi antara Indonesia dan Rusia kian mendekati tahap final. Salah satu poin penting dalam pembahasan tersebut adalah rencana pembangunan fasilitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) atau storage di dalam negeri.
Bahlil menyebut, komunikasi intensif telah dilakukan menyusul pertemuannya dengan Menteri Sumber Daya Mineral Rusia serta utusan khusus Presiden Vladimir Putin beberapa hari lalu. Hasilnya, Indonesia berpeluang mendapatkan pasokan minyak mentah (crude) dari Rusia sekaligus investasi infrastruktur energi.
“Alhamdulillah kabarnya cukup menggembirakan. Kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia dan mereka juga siap membangun beberapa infrastruktur penting untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” kata Bahlil menyampaikan keterangan pers di Istana Merdeka yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (16/4).
Menurutnya, pembangunan storage BBM menjadi bagian dari paket kerja sama investasi yang kini masih dalam tahap finalisasi. Selain storage, pembahasan juga mencakup pembangunan kilang minyak.
“Itu masih dalam bahasan angka. Sedikit lagi selesai, tinggal satu-dua putaran pembahasan lagi,” katanya.
Di sisi pasokan, Bahlil memastikan kesepakatan pembelian crude oil dari Rusia hampir rampung. Meski begitu, ia belum bisa mengungkapkan volume impor karena terikat kesepakatan antar pihak. Yang jelas, pemerintah menjamin kebutuhan minyak mentah nasional hingga akhir tahun dalam kondisi aman.
“Kebutuhan crude kita setiap tahun sekitar 300 juta barel. Jadi kita ambil mana yang paling menguntungkan bagi negara,” ujarnya.
Ia menambahkan, skema kerja sama dilakukan secara jangka panjang, baik melalui mekanisme government-to-government (G-to-G) maupun business-to-business (B-to-B). Dalam hal harga, pemerintah akan mengupayakan pembelian dengan harga kompetitif, minimal setara harga pasar global, atau jika memungkinkan di bawah harga pasar.
Selain crude oil, Indonesia juga membuka peluang kerja sama impor LPG dari Rusia. Hal ini penting mengingat kebutuhan LPG nasional yang mencapai sekitar 7 juta ton per tahun masih sangat bergantung pada impor.
Namun, untuk kerja sama LPG, Bahlil menyebut pembahasannya masih memerlukan beberapa tahap lanjutan.
Dalam konteks geopolitik, Bahlil menegaskan bahwa kerja sama dengan Rusia tidak akan mengganggu hubungan Indonesia dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik bebas aktif.
“Dalam politik bebas aktif itu juga ada ekonomi bebas aktif. Kita boleh belanja dari mana saja selama menguntungkan dan tetap menjaga komitmen dengan mitra lain,” kata Bahlil.
Selain Rusia, Indonesia juga menjajaki kerja sama energi dengan sejumlah negara lain seperti Nigeria dan kawasan Afrika, sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasokan energi nasional
