Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ribuan Jenis Sayuran Terancam Hilang, Gizi Manusia Terancam
Gambar aneka sayuran segar. (unsplash.com/randyfath)
  • Konsumsi sayuran global rata-rata 40 persen di bawah rekomendasi, sementara penyusutan keragaman tanaman berisiko memperburuk gizi dan ketahanan sistem pangan terhadap perubahan iklim.
  • FAO memperkirakan 24 persen kerabat liar sayuran yang telah dinilai terancam punah, sehingga sumber genetik untuk nutrisi dan adaptasi iklim semakin menyempit.
  • Peneliti mendorong diversifikasi budidaya dan konsumsi, termasuk pengembangan sayuran regional seperti spider plant, slippery cabbage, pare, dan labu serta konservasi varietas tradisional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Konsumsi sayuran masyarakat dunia masih jauh dari tingkat yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan. Di saat yang sama, keragaman jenis sayuran yang dibudidayakan juga terus menyusut. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kualitas pola makan sekaligus mengurangi kemampuan sistem pangan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Laporan terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) oleh tim internasional yang terdiri dari pakar nutrisi, pertanian, dan botani menyebutkan bahwa peningkatan keanekaragaman hayati sayuran dapat menjadi salah satu cara untuk memperbaiki kesehatan manusia sekaligus menjaga ketahanan lingkungan.

Ilmuwan pertanian, Maarten van Zonneveld, yang memimpin penelitian tersebut ketika bekerja di World Vegetable Center, menilai pendekatan pertanian saat ini belum cukup untuk mengatasi persoalan gizi dunia.

"Solusinya bukan sekadar menanam lebih banyak sayuran, tetapi juga menanam lebih banyak jenis sayuran," ujar Maarten, dikutip dari Science Alert, Senin (10/8).

Menurutnya, sebagian besar sumber daya genetik sayuran yang dibutuhkan masih tersedia dalam varietas tradisional maupun kerabat liarnya. Namun, sumber daya tersebut perlu dikonservasi agar dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pola makan, terutama ketika perubahan iklim semakin memengaruhi sistem pertanian.

Studi tersebut menunjukkan masih banyak jenis sayuran yang kaya mineral dan vitamin, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Sejumlah varietas juga dinilai lebih sesuai dengan kondisi lingkungan setempat dibandingkan tanaman yang saat ini mendominasi produksi pangan global.

Secara global, masyarakat rata-rata mengonsumsi sayuran sekitar 40 persen lebih sedikit dari jumlah yang direkomendasikan untuk pola makan sehat. Rendahnya konsumsi sayuran menjadi perhatian karena masuk dalam lima besar faktor risiko pola makan yang berkontribusi terhadap beban penyakit global. Ketika daya beli melemah, sayuran juga kerap menjadi salah satu komoditas yang dikurangi dari daftar belanja rumah tangga.

Dari sisi produksi, petani menghadapi risiko ekonomi yang relatif tinggi ketika membudidayakan sayuran. Sifatnya yang mudah rusak dan memiliki masa simpan pendek membuat komoditas ini lebih berisiko dibandingkan sejumlah tanaman pangan lainnya.

Keragaman tanaman pangan juga jauh lebih tinggi sebelum pertanian berkembang menjadi industri berskala besar. Kentang, misalnya, memiliki lebih dari 4.000 varietas, tetapi hanya sekitar lima hingga delapan varietas yang digunakan secara luas di Amerika Serikat.

Perkembangan pertanian industri turut mempersempit keragaman tersebut. Seleksi buatan, praktik monokultur untuk produksi massal, serta rekayasa genetika telah mengubah komposisi tanaman yang akhirnya tersedia di pasar dan meja makan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan sekitar 24 persen kerabat liar sayuran yang telah dinilai pada tingkat spesies menghadapi risiko kepunahan. Hilangnya keragaman genetik tersebut bukan hanya berarti berkurangnya pilihan pangan. Sumber daya genetik yang semakin sempit juga dapat mengurangi kandungan nutrisi serta kemampuan tanaman untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi iklim.

Diversifikasi jadi kebutuhan sistem pangan

Peneliti mencatat, sejumlah jenis sayuran telah berkembang menjadi komoditas global. Selada, bawang, dan tomat, misalnya, telah menjadi bagian dari pola makan di berbagai negara. Namun, banyak jenis lain yang memiliki kandungan mikronutrien lebih tinggi dan kemampuan adaptasi lebih baik terhadap lingkungan yang sulit justru masih dikonsumsi secara regional. Beberapa spesies, seperti selada, bawang, dan tomat, telah menjadi tanaman pangan global dan menjadi bagian dari pola makan di seluruh dunia.

"Banyak lainnya, seperti spider plant, slippery cabbage, dan pare, yang umumnya lebih kaya mikronutrien dan lebih mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang menantang serta keterbatasan sumber daya, hanya tersedia secara regional dan sering kali diabaikan dalam kebijakan serta strategi pangan berskala besar," ujarnya.

Para peneliti menyoroti setidaknya empat jenis tanaman yang berpotensi membantu memperluas keragaman pangan regional. yakni Spider plant, sayuran berdaun hijau tua yang banyak dibudidayakan di Afrika. Kedua, slippery cabbage merupakan salah satu sayuran berdaun hijau yang populer di kawasan Pasifik. Ada pula pare yang populer di Asia dan Karibia. Tanaman ini memiliki sejumlah kerabat liar yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kondisi tropis.

Jenis lainnya adalah labu yang dikenal mampu bertahan dalam kondisi panas dan kekeringan. Buahnya juga kaya beta-karoten. Kendati memiliki nilai komersial, para peneliti menilai sumber daya genetik labu masih belum dimanfaatkan dan dikonservasi secara optimal. Menurut tim peneliti, keempat tanaman tersebut dapat menjadi titik awal untuk memperluas keragaman tanaman pangan di tingkat regional. Namun, masih terdapat lebih dari 1.480 spesies sayuran lainnya yang dapat dikembangkan.

Para peneliti menilai diversifikasi tidak dapat ditunda karena sistem pangan global menghadapi kebutuhan yang semakin besar untuk menjadi lebih beragam dan tangguh. ereka mendorong adanya inisiatif global yang dapat menghubungkan berbagai upaya konservasi dan pengembangan di tingkat lokal maupun regional. "Penyelarasan melalui sebuah inisiatif global akan memastikan bahwa upaya di tingkat lokal dan regional dapat menghasilkan perbaikan pola makan, baik pada tingkat lokal maupun global," katanya, menambahkan.

Upaya menjaga keragaman sayuran juga dapat dimulai dari tingkat konsumen. Bagi masyarakat yang memiliki kebun, peneliti menyarankan menanam varietas landrace dan heirloom yang memiliki karakter genetik lebih beragam.

Menyimpan benih dari tanaman yang ditanam sendiri untuk kembali dibudidayakan pada musim berikutnya juga dapat membantu mempertahankan keragaman. Dalam jangka panjang, praktik tersebut bahkan memungkinkan munculnya varietas lokal yang memiliki karakteristik unik. Pilihan lainnya adalah berbelanja di pasar petani atau toko pangan independen yang biasanya menawarkan lebih banyak pilihan sayuran dan buah dibandingkan kanal ritel yang mengandalkan komoditas dengan pasokan massal.

Dengan demikian, menjaga keragaman sayuran bukan hanya persoalan konservasi tanaman. Pilihan jenis pangan yang dibudidayakan dan dikonsumsi turut menentukan kualitas nutrisi masyarakat serta kemampuan sistem pangan menghadapi perubahan iklim di masa depan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article