Jakarta, FORTUNE – Konsumsi sayuran masyarakat dunia masih jauh dari tingkat yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan. Di saat yang sama, keragaman jenis sayuran yang dibudidayakan juga terus menyusut. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kualitas pola makan sekaligus mengurangi kemampuan sistem pangan beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Laporan terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) oleh tim internasional yang terdiri dari pakar nutrisi, pertanian, dan botani menyebutkan bahwa peningkatan keanekaragaman hayati sayuran dapat menjadi salah satu cara untuk memperbaiki kesehatan manusia sekaligus menjaga ketahanan lingkungan.
Ilmuwan pertanian, Maarten van Zonneveld, yang memimpin penelitian tersebut ketika bekerja di World Vegetable Center, menilai pendekatan pertanian saat ini belum cukup untuk mengatasi persoalan gizi dunia.
"Solusinya bukan sekadar menanam lebih banyak sayuran, tetapi juga menanam lebih banyak jenis sayuran," ujar Maarten, dikutip dari Science Alert, Senin (10/8).
Menurutnya, sebagian besar sumber daya genetik sayuran yang dibutuhkan masih tersedia dalam varietas tradisional maupun kerabat liarnya. Namun, sumber daya tersebut perlu dikonservasi agar dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pola makan, terutama ketika perubahan iklim semakin memengaruhi sistem pertanian.
Studi tersebut menunjukkan masih banyak jenis sayuran yang kaya mineral dan vitamin, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Sejumlah varietas juga dinilai lebih sesuai dengan kondisi lingkungan setempat dibandingkan tanaman yang saat ini mendominasi produksi pangan global.
Secara global, masyarakat rata-rata mengonsumsi sayuran sekitar 40 persen lebih sedikit dari jumlah yang direkomendasikan untuk pola makan sehat. Rendahnya konsumsi sayuran menjadi perhatian karena masuk dalam lima besar faktor risiko pola makan yang berkontribusi terhadap beban penyakit global. Ketika daya beli melemah, sayuran juga kerap menjadi salah satu komoditas yang dikurangi dari daftar belanja rumah tangga.
Dari sisi produksi, petani menghadapi risiko ekonomi yang relatif tinggi ketika membudidayakan sayuran. Sifatnya yang mudah rusak dan memiliki masa simpan pendek membuat komoditas ini lebih berisiko dibandingkan sejumlah tanaman pangan lainnya.
Keragaman tanaman pangan juga jauh lebih tinggi sebelum pertanian berkembang menjadi industri berskala besar. Kentang, misalnya, memiliki lebih dari 4.000 varietas, tetapi hanya sekitar lima hingga delapan varietas yang digunakan secara luas di Amerika Serikat.
Perkembangan pertanian industri turut mempersempit keragaman tersebut. Seleksi buatan, praktik monokultur untuk produksi massal, serta rekayasa genetika telah mengubah komposisi tanaman yang akhirnya tersedia di pasar dan meja makan.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan sekitar 24 persen kerabat liar sayuran yang telah dinilai pada tingkat spesies menghadapi risiko kepunahan. Hilangnya keragaman genetik tersebut bukan hanya berarti berkurangnya pilihan pangan. Sumber daya genetik yang semakin sempit juga dapat mengurangi kandungan nutrisi serta kemampuan tanaman untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi iklim.
