Jakarta, FORTUNE – Anggapan bahwa konsumen memasuki fase penurunan setelah berusia 40 tahun mulai kehilangan relevansinya. Kelompok usia tersebut justru menunjukkan daya beli, aktivitas digital, serta keinginan untuk terus berkembang yang membuka peluang baru bagi pelaku bisnis dan pemasar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam studi Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) menunjukkan, masyarakat berusia di atas 40 tahun mencakup 38,2 persen dari total populasi Indonesia. Besarnya proporsi tersebut menjadikan kelompok ini bukan lagi ceruk pasar kecil, melainkan segmen konsumen dengan potensi ekonomi yang semakin signifikan.
Temuan itu menjadi bagian dari studi terbaru HILL ASEAN bertajuk Decoding the Prime Generation, yang memotret perubahan perilaku masyarakat berusia 40 tahun ke atas di Indonesia dan sejumlah negara ASEAN.
Selama ini, usia 40 tahun kerap dikaitkan dengan fase midlife crisis dan penurunan produktivitas maupun relevansi konsumsi. Namun, studi HILL ASEAN menunjukkan gambaran berbeda. Kelompok yang disebut sebagai Prime Generation tersebut justru semakin memahami prioritas hidup, tetap aktif secara sosial, terbuka terhadap teknologi, dan memiliki keinginan untuk menikmati hasil dari perjalanan hidup yang telah mereka lalui.
“Selama bertahun-tahun, para pemasar menjadikan konsumen muda sebagai sumber utama pertumbuhan. Padahal, segmen konsumen berusia 40 tahun ke atas kini mulai muncul sebagai salah satu peluang pasar terbesar," ujar Devi Attamimi, Group CEO Hakuhodo International Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).
Segmen ini menurutnya tidak lagi dapat dilihat hanya dari faktor usia, tetapi juga dari semakin kuatnya kejelasan dalam menjalani hidup, kepercayaan diri, dan pengaruh yang mereka miliki. Inilah saatnya bagi para pemasar untuk melihat potensi besar dari segmen konsumen yang selama ini masih kurang mendapat perhatian, serta memanfaatkan potensinya untuk mendorong gelombang pertumbuhan baru.
