Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: 38,2% Populasi RI Berusia 40+, Pasar Besar yang Mulai Dibidik
Dok. FORTUNE IDN/Desy Y.
  • Studi HILL ASEAN mencatat 38,2% populasi Indonesia berusia di atas 40 tahun, menjadikannya segmen pasar besar yang selama ini kurang diperhatikan pemasar.
  • Kelompok 40+ memiliki daya beli dan konektivitas digital kuat: pengguna belanja online mencapai 57%, sementara 73,3% pernah bertransaksi melalui live commerce.
  • Konsumen 40+ makin berorientasi pada self-reward, kualitas, pengalaman, aktivitas sosial, dan pengembangan diri; 73% ingin tetap aktif secara fisik maupun mental.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Anggapan bahwa konsumen memasuki fase penurunan setelah berusia 40 tahun mulai kehilangan relevansinya. Kelompok usia tersebut justru menunjukkan daya beli, aktivitas digital, serta keinginan untuk terus berkembang yang membuka peluang baru bagi pelaku bisnis dan pemasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam studi Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) menunjukkan, masyarakat berusia di atas 40 tahun mencakup 38,2 persen dari total populasi Indonesia. Besarnya proporsi tersebut menjadikan kelompok ini bukan lagi ceruk pasar kecil, melainkan segmen konsumen dengan potensi ekonomi yang semakin signifikan.

Temuan itu menjadi bagian dari studi terbaru HILL ASEAN bertajuk Decoding the Prime Generation, yang memotret perubahan perilaku masyarakat berusia 40 tahun ke atas di Indonesia dan sejumlah negara ASEAN.

Selama ini, usia 40 tahun kerap dikaitkan dengan fase midlife crisis dan penurunan produktivitas maupun relevansi konsumsi. Namun, studi HILL ASEAN menunjukkan gambaran berbeda. Kelompok yang disebut sebagai Prime Generation tersebut justru semakin memahami prioritas hidup, tetap aktif secara sosial, terbuka terhadap teknologi, dan memiliki keinginan untuk menikmati hasil dari perjalanan hidup yang telah mereka lalui.

“Selama bertahun-tahun, para pemasar menjadikan konsumen muda sebagai sumber utama pertumbuhan. Padahal, segmen konsumen berusia 40 tahun ke atas kini mulai muncul sebagai salah satu peluang pasar terbesar," ujar Devi Attamimi, Group CEO Hakuhodo International Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).

Segmen ini menurutnya tidak lagi dapat dilihat hanya dari faktor usia, tetapi juga dari semakin kuatnya kejelasan dalam menjalani hidup, kepercayaan diri, dan pengaruh yang mereka miliki. Inilah saatnya bagi para pemasar untuk melihat potensi besar dari segmen konsumen yang selama ini masih kurang mendapat perhatian, serta memanfaatkan potensinya untuk mendorong gelombang pertumbuhan baru.

Daya beli dan digitalisasi jadi modal

Potensi ekonomi kelompok ini terlihat dari kemampuan finansial sekaligus kedekatannya dengan teknologi. Berdasarkan data BPS yang digunakan dalam studi, kelompok usia 55–59 tahun tercatat memiliki rata-rata pendapatan tertinggi.

Di sisi lain, keterlibatan digital generasi tersebut juga terus meningkat. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi internet mencapai 79,48 persen pada Generasi X dan 59,40 persen pada generasi yang lebih tua.

Artinya, konsumen berusia 40 tahun ke atas tidak hanya memiliki kemampuan untuk berbelanja, tetapi juga semakin terkoneksi dengan kanal digital yang menjadi bagian penting dari strategi pemasaran saat ini.

Riset HILL ASEAN memperkuat gambaran tersebut. Sebanyak 57,0 persen responden berusia di atas 40 tahun menggunakan platform belanja online, lebih tinggi dibandingkan kelompok berusia di bawah 40 tahun yang mencapai 48 persen.

Aktivitas mereka di kanal perdagangan digital juga tidak berhenti pada transaksi konvensional. Sebanyak 51,1 persen responden secara rutin menonton tayangan live commerce, sedangkan 73,3 persen mengaku pernah melakukan pembelian melalui live commerce.

Angka tersebut menunjukkan bahwa adopsi teknologi pada kelompok usia 40+ tidak semata-mata berkaitan dengan kebutuhan komunikasi atau hiburan. Teknologi telah menjadi bagian dari cara mereka memenuhi kebutuhan, mencari informasi, hingga menikmati pengalaman konsumsi.

Usia 40+ senang self reward

Dok. FORTUNE IDN/Desy Y.

Perubahan perilaku juga terlihat dari cara Prime Generation menggunakan uangnya. Bertambahnya usia tidak otomatis membuat konsumen semakin menahan pengeluaran untuk kebutuhan pribadi.

Studi tersebut menemukan 51,1 persen responden berusia di atas 40 tahun mengeluarkan uang untuk diri sendiri sebagai bentuk self-reward. Pengeluaran tersebut antara lain diarahkan untuk rekreasi, perjalanan, dan berbagai pengalaman yang memberikan kepuasan personal.

Kecenderungan terhadap kualitas produk dan layanan juga meningkat seiring bertambahnya usia. Preferensi terhadap kualitas tercatat sebesar 37,5 persen pada kelompok usia 40–49 tahun. Angkanya naik menjadi 41,5 persen pada usia 50–59 tahun dan mencapai 53,5 persen pada kelompok 60–69 tahun.

Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan dari pola konsumsi berbasis kebutuhan menuju konsumsi yang semakin selektif dan berorientasi pada kualitas serta pengalaman.

Rian Prabana, Senior Director of Strategy & Head of Sei-katsu-sha Lab, mengatakan kelompok ini justru memasuki fase ketika pengalaman dan kemampuan finansial yang telah terkumpul dapat digunakan untuk menikmati kehidupan.

“Alih-alih memasuki fase penurunan, mereka justru berada di masa puncak hidupnya. Selama ini, mereka kerap dipandang hanya melalui kacamata usia, padahal mereka masih punya pengaruh dan masih sangat berdaya," ujarnya.

Dengan kemampuan finansial yang kuat dan keinginan untuk tetap memanjakan diri, mereka mencari pengalaman konsumsi yang dapat membuat hidup terasa lebih berarti. Kini saatnya bagi marketer untuk melihat segmen ini sebagai potensi pertumbuhan baru yang menjanjikan.

Potensi Prime Generation juga tidak hanya tercermin dari konsumsi. Kelompok ini menunjukkan dorongan untuk tetap aktif dan mengembangkan kapasitas diri.

Sebanyak 47,1 persen responden berusia di atas 40 tahun menyatakan masih ingin mengalami lebih banyak hal dalam hidup. Fase setelah usia 40 tahun dipandang sebagai kesempatan untuk kembali mengejar berbagai aspirasi yang sebelumnya tertunda karena prioritas keluarga maupun pekerjaan.

Sementara itu, 73 persen responden ingin tetap aktif secara fisik dan mental. Dorongan tersebut antara lain berasal dari keinginan untuk menjalani kehidupan secara mandiri dan tidak menjadi beban bagi keluarga.

Pengaruh sosial mereka juga relatif kuat. Sebanyak 52,5 persen responden berusia di atas 40 tahun tergabung dalam lebih dari 20 komunitas, dibandingkan 39,1 persen pada kelompok generasi yang lebih muda.

Besarnya keterlibatan sosial ini memperlihatkan bahwa usia tidak serta-merta mengurangi pengaruh seseorang terhadap lingkungan. Sebaliknya, pengalaman yang telah dimiliki dapat membuat kelompok ini memiliki jaringan dan peran yang semakin luas.

Hubungan Prime Generation dengan teknologi juga terlihat dari cara mereka belajar. Di Indonesia, 62,4 persen responden berusia 40–69 tahun menyatakan ingin terus mengembangkan diri dengan mempelajari keterampilan baru.

Media sosial bahkan menjadi salah satu kanal pembelajaran. Sebanyak 43,5 persen kelompok usia di atas 40 tahun menggunakan media sosial untuk memperoleh pengetahuan dan mempelajari keterampilan baru, lebih tinggi daripada kelompok usia lebih muda yang berada di angka 39 persen.

Studi Decoding the Prime Generation dilakukan melalui riset kuantitatif dan kualitatif di enam negara ASEAN, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina, serta Jepang.

Riset kualitatif dilakukan melalui 36 kunjungan ke rumah responden, sementara survei daring melibatkan 4.900 responden.

Hasilnya memperlihatkan bahwa kelompok usia 40+ sedang mengalami perubahan cara pandang terhadap kehidupan sekaligus konsumsi. Mereka tidak lagi semata-mata menjalankan peran sosial yang selama ini dilekatkan pada usia, tetapi mulai memberi ruang lebih besar bagi tujuan dan keinginan pribadi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article