NEWS

Bagaimana Coca-Cola, FedEx, hingga Sony Hadapi Perubahan Iklim?

4 aspek ini penting agar perusahaan lebih ramah lingkungan.

Bagaimana Coca-Cola, FedEx, hingga Sony Hadapi Perubahan Iklim?Tutup botol Coca-Cola. (Shutterstock/monticello)
06 October 2021

Jakarta, FORTUNE - Perubahan iklim global tak terelakkan. Kontribusi perusahaan ternama dunia pun dipertanyakan. Para pemimpinnya menjadi sasaran keingintahuan mengenai apakah perusahaannya menjalankan proses produksi dan menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan?

Menurut CEO 3M, Mike Roman, dua aspek keberlanjutan yang penting adalah perhitungan dan jalur untuk mencapai tujuan itu. “Apakah itu netral karbon, air, membuang limbah, atau menghilangkan plastik murni, itu semua penting bagi kami untuk ditingkatkan,” ujarnya, dikutip Fortune, Rabu (6/10).

Selain itu, ada empat aspek yang penting untuk menjaga proses dan produksi perusahaan Anda agar tetap mengutamakan keberlanjutan lingkungan. Semua masukan itu berasal dari perusahaan-perusahaan beken seperti Coca-Cola, FedEx, Sony, hingga General Motors.

1. Menjaga Agar Kadar Emisi Tetap Nol

Mempertahankan agar kadar emisi tetap nol merupakan tujuan utama dari dorongan bisnis ramah lingkungan beberapa tahun terakhir. Deretan panelis Global Sustainability Forum Fortune sepakat bahwa untuk mewujudkan itu, setiap orang di sepanjang rantai pasokan memiliki peran masing-masing.

Pemberian insentif kepada mitra agar mengurangi emisi dapat menjadi salah satu jalur ke tujuan akhir itu. Cara lainnya: memperoleh bantuan dari pemerintah.

“Jika kita akan mengubah ekonomi dunia berkaitan dengan nol kadar emisi, kita harus bekerja sama untuk melakukannya,” ujar Kepala Petugas Keberlanjutan FedEx, Mitch Jackson.

Sementara, Sony menyarankan agar pengurangan emisi dimulai dari kantor pusat. Kemudian, strategi itu dapat diadopsi secara bertahap oleh unit bisnis masing-masing, ketika itu telah berpengaruh terhadap laba.

Wakil Presiden Eksekutif Senior Keberlanjutan Sony, Shiro Kambe, mengatakan “ada indikasi yang jelas bahwa pilihan pelanggan bisa begitu dipengaruhi oleh sikap perusahaan terhadap lingkungan.”

2. Paradoks Daur Ulang Plastik

Kepala Dampak Keberlanjutan HP, Ellen Jackowski, mengatakan pihaknya menemukan cara memperoleh plastik daur ulang untuk selongsong tinta—sekaligus mencegahnya dibuang di tempat pembuangan sampah tanpa layanan daur ulang. Sebab, tidak semua pusat pembuangan mendaur ulang sampah, seperti di Haiti.

“Kami sudah menyewa tim pengepul lokal untuk mengambil sampah plastik, lalu dikirim ke mitra pendaur ulang lokal, kemudian kami membelinya untuk digunakan di produk HP,” jelas Jackowski.

Bisnis juga berperan penting mengubah kebiasaan konsumen agar mulai membiasakan diri dengan plastik ramah lingkungan.

Menurut Chief Sustainability Officer Colgate-Palmolive Company, Ann Tracy, “konsumen ingin melakukan hal yang benar, tetapi sulit untuk membayar lebih untuk mewujudkannya. Jadi, itu sesuatu yang kami perjuangkan.”

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.