Restrukturisasi Utang Whoosh Hampir Rampung, Danantara Segera Umumkan

Pemerintah tinggal menunggu proses administratif sebelum mengumumkannya secara luas.
Dony Oskaria menyebut kesepakatan akhir dengan Menteri Keuangan telah tercapai.
Pengoperasian Whoosh tetap dijalankan PT KAI untuk menjaga layanan publik.
Jakarta, FORTUNE - Pemerintah memastikan proses restrukturisasi utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh akan segera mencapai tahap akhir.
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa penyelesaian tersebut kini tinggal menunggu proses formal sebelum diumumkan secara luas.
Dony menyampaikan tahun ini pemerintah memang menargetkan seluruh restrukturisasi BUMN bisa diselesaikan secara menyeluruh, tidak hanya tepat waktu tetapi juga tuntas secara fundamental. Dalam konteks Whoosh, ia menegaskan pembahasan dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sudah mencapai kesepakatan akhir.
“Whoosh juga akan segera selesai. Insyaallah minggu depan atau dua minggu lagi saya dan Pak Menkeu akan bertemu, sekaligus menyampaikan kepada wartawan bahwa prosesnya sudah final,” ujar Dony usai mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, yang dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (7/8).
Menurutnya, seluruh kajian terkait restrukturisasi utang telah rampung, termasuk pembahasan detail skema penyelesaiannya. Saat ini, pemerintah hanya tinggal menjalankan tahapan administratif seperti penandatanganan (signing) sebelum pengumuman resmi dilakukan.
Meski demikian, Dony belum memerinci total nilai utang yang direstrukturisasi maupun porsi kepemilikan yang akan diambil oleh Kementerian Keuangan. Ia memastikan seluruh informasi tersebut akan disampaikan secara terbuka dalam pengumuman bersama dengan Menteri Keuangan dalam waktu dekat.
“Nanti dua minggu lagi kita sampaikan keseluruhannya. Yang jelas, kesepakatannya sudah ada, kajiannya sudah selesai,” katanya.
Dalam skema yang tengah disiapkan, pengoperasian Whoosh dipastikan tetap berada di tangan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Hal ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan layanan, mengingat KAI memiliki kompetensi utama pada sektor perkeretaapian.
Dony menegaskan, fokus utama pemerintah saat ini bukan lagi pada asal-usul permasalahan, melainkan memastikan seluruh persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Ia juga menjamin proses restrukturisasi tidak akan mengganggu layanan kepada masyarakat.
“Yang paling penting layanan publik tidak terganggu, bahkan justru akan semakin baik,” ujarnya.
Polemik utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) telah bergulir sejak tahun lalu, seiring besarnya kebutuhan pembiayaan proyek tersebut. Dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China, total investasi Whoosh mencapai sekitar US$7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,2 miliar.
Struktur pendanaannya didominasi pinjaman dari China Development Bank sebesar 75 persen, sementara 25 persen sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia sebesar 60 persen dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. sebesar 40 persen.
Untuk menutup lonjakan biaya, pemerintah menggelontorkan penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp3,2 triliun kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero). Di sisi lain, CDB juga menambah pinjaman sebesar US$448 juta yang kemudian diteruskan ke KCIC.
Secara keseluruhan, utang proyek diperkirakan mencapai sekitar Rp79 triliun, dengan bunga awal 3,4 persen per tahun atau setara beban bunga sekitar US$120,9 juta per tahun. Dengan struktur tersebut, studi KCIC dan KAI memperkirakan periode pengembalian investasi mencapai 38 tahun, sementara estimasi pemerintah berkisar 30-40 tahun.

















