Purbaya Ungkap Penyebab Defisit APBN Membengkak, BGN Jadi Sorotan

Defisit APBN naik signifikan dari tahun sebelumnya, tapi masih di bawah batas target 2,68 persen.
Purbaya menjelaskan lonjakan defisit disebabkan percepatan belanja negara pada awal tahun.
Meskipun defisit melebar, kondisi fiskal dinilai terkendali.
Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengeluarkan pernyataan mengenai tingginya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp240,1 triliun per 31 Maret 2026, atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang Rp99,8 triliun atau 0,41 persen dari PDB.
Meski demikian, pemerintah masih menjaga defisit agar tetap dalam batas target APBN 2026 yang dipatok maksimal 2,68 persen terhadap PDB.
Purbaya menjelaskan, salah satu faktor utama pembengkakan defisit berasal dari percepatan belanja negara pada awal tahun. Ia menekankan, pemerintah kini berupaya mengubah pola belanja agar lebih merata sepanjang tahun, sehingga tidak lagi menumpuk pada akhir periode seperti sebelumnya.
“[Jika tidak merata], dampak ekonominya tidak optimal,” kata dia saat konferensi pers terkait kebijakan transportasi dan BBM di Jakarta, Senin (6/4).
Dalam sorotan belanja tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) disebut menjadi salah satu pihak dengan realisasi belanja terbesar. Meski begitu, Purbaya menegaskan kementerian dan lembaga lain juga melakukan pola belanja serupa.
Sebagai bendahara negara, ia memastikan akan terus mengawasi kualitas belanja pemerintah. Bahkan, ia tidak segan memberikan peringatan kepada kementerian/lembaga jika ditemukan penggunaan anggaran yang tidak tepat sasaran.
“Kalau [kengawurannya] tetap diteruskan, bisa saja kami tidak bayarkan,” ujarnya.
Secara terperinci, data Kementerian Keuangan menunjukkan total belanja negara mencapai Rp815 triliun hingga akhir Maret 2026 atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan dari Rp620,3 triliun pada periode sama tahun lalu.
Sementara itu, penerimaan negara baru mencapai Rp574,9 triliun.
Pajak masih menjadi kontributor penerimaan terbesar dengan realisasi Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp404,7 triliun. Di sisi lain, pembiayaan anggaran telah terealisasi Rp257,4 triliun alias naik tipis 1,9 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut membuat keseimbangan primer mencetak defisit sebesar Rp95,8 triliun.
Meski defisit melebar, Purbaya menilai kondisi fiskal masih terkendali. Ia bahkan optimistis arah perekonomian ke depan dapat berbalik positif, didukung oleh pertumbuhan sektor swasta.
Ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tahun lalu mencapai 5,39 persen dan diperkirakan dapat menembus 5,5 persen pada periode mendatang. Menurutnya, kunci utama pemulihan ekonomi terletak pada peran sektor swasta.
“Sekitar 90 persen pergerakan ekonomi ada di sektor swasta. Jadi, jangan hanya melihat dari sisi pemerintah,” ujarnya.
Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah akan terus mendorong investasi melalui langkah debottlenecking guna mengatasi berbagai hambatan.
















