Tren Resign Usai Dapat THR, Gaji Ternyata Bukan Alasan Utama

Fenomena resign setelah Lebaran memang ada, tapi skalanya kecil.
THR bukan alasan utama karyawan resign.
Faktor work-life balance dan purpose at work lebih berpengaruh terhadap kebahagiaan serta loyalitas karyawan.
Jakarta, FORTUNE - Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) setiap menjelang Lebaran kerap menjadi penanda dimulainya babak baru bagi banyak pekerja. Momentum ini tak hanya identik dengan mudik dan konsumsi, tetapi juga meningkatnya aktivitas pencarian kerja baru yang dibarengi dengan evaluasi ulang arah karier—termasuk keputusan untuk mengundurkan diri.
Namun, fenomena resign setelah Lebaran ternyata tidak sebesar yang selama ini dikhawatirkan banyak perusahaan. Talent Acquisition Manager JobStreet by SEEK, Ria Novita, menegaskan bahwa gelombang resign pasca-THR memang ada, tetapi skalanya relatif kecil dibandingkan dengan periode lain seperti akhir tahun atau setelah performance review.
Ia menjelaskan, keputusan resign setelah Lebaran umumnya bukan sesuatu yang mendadak. Banyak karyawan sudah merencanakannya sejak jauh hari, namun menunggu pencairan THR agar hak mereka terpenuhi secara utuh. Dengan kata lain, THR bukan pemicu utama resign, melainkan lebih kepada faktor waktu.
Dari sisi etika dan regulasi, langkah tersebut juga dinilai sah selama karyawan mengikuti prosedur yang berlaku. Ria menekankan bahwa THR merupakan hak mutlak pekerja atas kontribusi mereka selama periode kerja tertentu. Selama proses pengunduran diri dilakukan sesuai aturan—seperti memenuhi masa pemberitahuan (notice period), menyelesaikan tanggung jawab, dan menjalankan serah-terima pekerjaan—resign setelah THR tetap dapat dipandang sebagai langkah yang etis.
Asumsi bahwa gaji menjadi alasan utama seseorang bertahan atau keluar dari pekerjaan tidak sepenuhnya terbukti. Laporan Workplace Happiness Index dari JobStreet by SEEK menunjukkan bahwa meskipun 54 persen pekerja di Indonesia mengakui gaji lebih tinggi dapat meningkatkan kebahagiaan, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu loyalitas.
Dua faktor utama yang justru lebih berpengaruh adalah keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan rasa memiliki tujuan dalam pekerjaan (purpose at work). Kedua aspek ini menjadi fondasi kebahagiaan karyawan di tempat kerja.
Pekerja yang merasa pekerjaannya bermakna dan selaras dengan tujuan pribadi cenderung lebih bahagia sekaligus lebih loyal. Bahkan, mereka memiliki kemungkinan 24 persen lebih besar menunjukkan kinerja ekstra atau melampaui ekspektasi perusahaan.
Melihat fenomena ini, perusahaan disarankan untuk tidak semata-mata memandang tren resign pasca-THR sebagai ancaman. Sebaliknya, momen ini bisa menjadi bahan refleksi guna memperbaiki strategi pengelolaan sumber daya manusia.
“Setiap keputusan resign pasti membawa konsekuensi, baik dari sisi waktu maupun biaya untuk rekrutmen dan pelatihan. Namun, karena biasanya sudah direncanakan sejak jauh hari, hal ini tidak seharusnya menjadi kejutan besar jika komunikasi antara karyawan dan atasan berjalan baik,” kata Ria.
Ia menambahkan, perusahaan perlu menggali lebih dalam alasan di balik keputusan resign karyawan. Evaluasi terhadap jenjang karier, kompensasi, hingga budaya kerja menjadi kunci untuk menciptakan tingkat turnover yang lebih sehat.


















