Jakarta, FORTUNE – Di tengah kuatnya gairah investasi emas, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) membukukan lompatan signifikan pada lini layanan gadai emasnya. Sepanjang paruh pertama tahun ini, nilai outstanding gadai emas bank syariah terbesar di Tanah Air ini mencapai Rp13 triliun, atau merepresentasikan kenaikan 100 persen bila disandingkan dengan perolehan pada periode sama tahun lalu.
Akselerasi pundi-pundi pembiayaan berbasis emas ini mencerminkan tingginya kesadaran publik dalam mengoptimalkan kepemilikan asetnya. Alih-alih menjual simpanan logam mulia saat membutuhkan dana segar, masyarakat kini memilih opsi penjaminan.
Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna, menyatakan perusahaannya sengaja merancang infrastruktur ini demi memfasilitasi kebutuhan finansial jangka pendek nasabah tanpa mengorbankan portofolio jangka panjang.
“Ekosistem ini kami hadirkan agar masyarakat dapat mengoptimalkan manfaat kepemilikan emas. Mulai dari memiliki emas melalui cicilan hingga saat ada kondisi membutuhkan dana tunai tanpa harus menjual asetnya,” ujar Anton melalui keterangan resmi yang dikutip Rabu (24/6).
Berdasarkan data internal emiten, basis nasabah gadai emas ini didominasi oleh sektor domestik atau kaum ibu rumah tangga. Mayoritas pemanfaatan fasilitas pendanaan tersebut dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan penting, yang salah satunya adalah pembiayaan sektor pendidikan anak.
Tingginya penerimaan pasar ini mempertegas peran ganda emas pada era modern: bukan sekadar alat lindung nilai (hedging) dari gerusan inflasi, melainkan juga bantalan darurat penunjang likuiditas keluarga.
“Emas memiliki nilai intrinsik yang kuat dan terbukti mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang,” kata Anton.
Sepanjang semester I-2026, denyut aktivitas di meja gadai BSI terus memperlihatkan grafik positif. Frekuensi pembiayaan tercatat stabil dengan rata-rata volume mencapai 120.000 transaksi setiap bulannya.
