Jakarta, FORTUNE – Unit Usaha Syariah (UUS) Permata Bank memperkuat komitmennya untuk mendongkrak indeks inklusi keuangan syariah nasional yang masih terpaut jauh dari layanan konvensional. Langkah ini diwujudkan melalui akselerasi produk pembiayaan emas dan haji guna merespons kebutuhan masyarakat akan instrumen keuangan yang aman dan sesuai prinsip syariah.
Hingga 2025, indeks inklusi keuangan syariah di Tanah Air tercatat baru menyentuh 13,41 persen. Persentase ini menunjukkan ketimpangan lebar jika dibandingkan dengan inklusi keuangan konvensional yang telah mencapai 80,51 persen.
Menyikapi kondisi tersebut, Permata Bank Syariah meluncurkan kampanye bertajuk “Syariah untuk Semua”. Melalui pendekatan ini, bank berupaya menghadirkan layanan finansial yang inklusif, modern, dan tetap relevan bagi berbagai lapisan masyarakat di setiap fase kehidupan mereka.
“Bagi kami, layanan syariah bukan sekadar produk keuangan, tetapi juga cerminan nilai amanah, keadilan, dan keberkahan. Permata Bank ingin memastikan layanan syariah dapat diakses dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, di setiap tahap kehidupan,” ujar Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, di Jakarta, Rabu (22/4).
Rudy menjelaskan bahwa di tengah gejolak perekonomian global, pembiayaan emas menjadi primadona investasi jangka panjang yang stabil. Perusahaan menawarkan program cicilan emas melalui Permata KTA iB Multiguna. Program ini memungkinkan nasabah memiliki fisik emas sejak awal masa pembiayaan, sehingga memberikan kepastian nilai investasi bagi pemegangnya.
Seluruh kemudahan layanan tersebut kini dapat diakses melalui aplikasi Permata ME. Platform digital ini menyediakan fitur validasi porsi haji reguler, informasi keuntungan top up tabungan haji, hingga pengajuan pembiayaan syariah secara daring. Transformasi digital ini diharapkan mampu menciptakan pengalaman perbankan yang lebih efisien dan praktis.
Langkah ekspansif ini sejalan dengan laju pertumbuhan aset industri keuangan syariah di Indonesia. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merekam total aset industri syariah nasional per Desember 2025 telah menembus Rp3.100 triliun, atau tumbuh 8,61 persen (YoY) di tengah dinamika geopolitik global.
Kinerja intermediasi Permata Bank secara keseluruhan juga mencatatkan rapor positif. Penyaluran kredit tumbuh 5,5 persen (YoY) menjadi Rp163,3 triliun pada akhir 2025. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh segmen korporasi yang melonjak 11,2 persen (YoY) ke Rp99,6 triliun.
Meski melakukan ekspansi, kualitas aset tetap terjaga dalam koridor yang sehat. Rasio NPL Gross stabil 2,1 persen, sementara profil risiko kredit atau Loan at Risk (LAR) tercatat membaik ke posisi 6,3 persen.
