Efisiensi Tingkatkan Laba Bank Mega Syariah Jadi 51,67 Persen pada Maret 2026

Laba bersih kuartal I-2026 Bank Mega Syariah menjadi Rp62,37 miliar.
Terlihat adanya peningkatan margin serta pengelolaan biaya dana lebih efektif.
Total pembiayaan tumbuh 7,2 persen mencapai Rp9,26 triliun dengan DPK Rp10 triliun.
Jakarta, FORTUNE – PT Bank Mega Syariah hingga pengujung Maret lalu mendulang laba bersih Rp62,37 miliar. Angka tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 51,67 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan perolehan pada kuartal I-2025 yang tertahan pada Rp41,12 miliar.
Keuntungan yang menebal ini dipandang sebagai hasil dari efisiensi operasional serta ketajaman strategi pembiayaan, baik pada segmen ritel maupun korporasi.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, mengatakan kunci utama keberhasilan ini terletak pada konsistensi perusahaan dalam membenahi struktur pendanaan. Langkah tersebut dinilai penting guna menekan biaya dana (cost of fund) agar tetap ramping.
“Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana,” ujar Hanie dalam keterangan resminya, dikutip Senin (4/5).
Ikhtiar memoles struktur biaya ini berdampak langsung pada performa margin perusahaan. Tercatat, Net Imbalan (NI) perusahaan terdongkrak ke level 5,85 persen, jauh melampaui posisi sebelumnya yang mencapai 4,04 persen.
Sejalan dengan itu, napas efisiensi juga berembus pada pos biaya operasional. Hal ini tecermin pada rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang membaik ke 76,90 persen dari 85,08 persen pada periode sama tahun silam.
Di sisi lain, permodalan bank tetap terjaga prima. Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bertengger pada level 27,63 persen.
Meskipun perusahaan itu mengaku tetap pasang mata terhadap dinamika risiko pembiayaan, laju penyaluran dana tetap bergerak lincah. Hingga Maret 2026, total pembiayaan yang dikucurkan menembus Rp9,26 triliun alias tumbuh 7,2 persen (YoY). Sokongan dana ini diimbangi dengan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang menyentuh Rp10 triliun.
Ketangkasan Bank Mega Syariah dalam memperkuat lini bisnis pembiayaan juga terlihat dari komposisi pendapatannya. Pendapatan berbasis piutang tumbuh 40,9 persen (YoY) menjadi Rp118 miliar, sementara pendapatan dari skema bagi hasil terkerek 4,7 persen (YoY) ke Rp114,73 miliar.
Pada sisa tahun ini, manajemen mengaku tidak ingin gegabah meski tengah berada di atas angin. Strategi selektif tetap menjadi pegangan utama dalam berekspansi.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta mengembangkan bisnis secara selektif dan berkelanjutan,” kata Hanie.

















