Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Investasi di Teknologi Meningkat, EY Soroti Tantangan Eksekusi
Ilustrasi RAM dan teknologi AI (sumber: ilustrasi digital/AI-generated).
  • Investasi teknologi di Indonesia meningkat, terutama pada agentic AI dan 5G, namun tantangan eksekusi serta keamanan masih menjadi hambatan utama menurut EY Parthenon Indonesia.
  • Keamanan siber dan kontrol data mendorong minat besar terhadap sovereign cloud, terutama di sektor keuangan, telekomunikasi, dan publik yang sangat teregulasi.
  • Banyak perusahaan menilai vendor belum mampu menunjukkan pemanfaatan teknologi internal secara efektif, sehingga dibutuhkan mitra strategis yang bisa berkolaborasi dalam transformasi bisnis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Investasi Indonesia pada teknologi transformasi semakin meningkat di kalangan perusahaan. Meski demikian, EY Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, Eric Listyosuputro mengatakan bahwa tantangan eksekusi dan keamanan masih menjadi hambatan utama dalam investasi tersebut.

“Realisasi nilai akan bergantung pada kemampuan untuk menutup kesenjangan kapabilitas serta memperkuat aspek keamanan guna mendukung adopsi yang bertanggung jawab dalam skala besar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (13/4).

Dalam riset EY Reimagining Industry Future Study 2026, EY mengatakan bahwa 66 persen responden dari perusahaan tercatat telah berinvestasi dalam agentic AI. Selain itu, tingkat investasi pada teknologi 5G juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, sovereign cloud juga mulai masuk dalam radar perusahaan.

Eric menilai, pertimbangan keamanan siber juga semakin mendorong minat pada sovereign cloud, dengan 79 persen responden menyebutkan keamanan siber dan kontrol data sebagai pendorong utama pergeseran solusi ke sovereign cloud.

“Sovereign cloud semakin menjadi pertimbangan strategis seiring organisasi memprioritaskan kontrol data, ketahanan, dan kepatuhan, khususnya di sektor-sektor yang sangat teregulasi seperti jasa keuangan, telekomunikasi, dan sektor publik,” katanya.

Sementara itu, seiring meluasnya lanskap pemasok dan meningkatnya tekanan eksternal yang mempengaruhi keputusan investasi teknologi, keamanan kini menempati peringkat teratas sebagai atribut penyedia layanan. Sedangkan, kapabilitas kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi dalam layanan vendor berada di posisi kedua. Sektor jasa keuangan, otomotif serta manufaktur menempatkan kapabilitas tersebut dalam faktor terpenting dalam pemilihan vendor.

Dalam memilih penyedia teknologi informasi dan komunikasi, perusahaan mencari mitra yang benar-benar memenuhi kebutuhan strategi mereka. Sebanyak 59 persen responden menyatakan bhawa vendor belum mampu menunjukkan bagaimana mereka memanfaatkan teknologi secara internal untuk mendukung transformasi bisnis mereka sendiri.

Sebanyak 59 persen perusahaan juga vendor belum mampu menunjukkan bagaimana merekaa memanfaatkan teknologi secara internal untuk mendukung transformasi bisnis mereka sendiri.

“Terdapat kebutuhan bisnis yang nyata terhadap vendor yang dapat berperan sebagai kolaborator strategis, bukan sekadar penyedia teknologi,” ujar EY Global Technology, Media & Entertainment and Telecommunications (TMT) Lead Analyst, Adrian Baschnonga.

Editorial Team